A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 7 Oktober 2016

Pengkhotbah: Vic. Edward Oei

Zaman sekarang kita sangat sulit membedakan antara hikmat dan pengetahuan. Malah, sering kali kita menganggap bahwa orang yang berpengetahuan adalah orang yang berhikmat. Benarkah seperti itu? Tidak benar. Hikmat itu tidak sama dengan pengetahuan karena hikmat itu adalah ketika kita sanggup merelasikan seluruh hidup kita dengan Allah. Hikmat itu membicarakan kebenaran Allah, sehingga orang yang berhikmat adalah orang yang mampu melihat kebenaran Allah di dalam dunia ini dan sanggup mengeluarkam kebenaran Allah di dalam konteks hidupnya.

Sering kali ketika kita menghadapi situasi yang menekan kita, bukankah kita justru malah mengompromikan kebenaran Tuhan? Ketika kita tahu bahwa kita harus menguduskan hari Sabat dan beribadah kepada Tuhan pada hari Minggu, tetapi ada acara kampus yang mendesak kita untuk datang ke acara tersebut pada hari Minggu, apa yang biasanya menjadi pilihan kita? Pergi ke acara kampus tersebut? Ketika kita berada di tengah-tengah ujian yang akan menentukan lulus atau tidaknya kita dari studi yang kita pilih, namun kita tidak dapat mengerjakannya dan ada teman yang bersedia memberikan jawaban ujiannya, apa reaksi pertama kita? Menyontek?

Kita sering diperhadapkan pada keadaan yang begitu menekan, tetapi Kristus pun juga pernah menghadapi keadaan yang jauh lebih sulit. Dia yang tidak bersalah, namun dicaci maki, disiksa, ditelanjangi, dan dipermalukan di hadapan umum. Anak Tunggal Allah yang begitu mulia dihina habis oleh manusia yang hendak Ia selamatkan. Dia tentu bisa saja memanggil ribuan malaikat untuk membinasakan orang-orang yang menyalibkan Dia, tetapi Dia memilih untuk tidak melakukannya. Di dalam situasi yang sungguh berat, Kristus tetap dapat mengontrol diri untuk tetap taat, menyatakan ketaatan pada kehendak Bapa. Ketaatan inilah yang justru menyatakan pekerjaan Tuhan di dalam sejarah manusia.

Kita, sebagai pemuda-pemudi Kristen, dipanggil untuk meneladani Kristus dan menjadi orang yang berhikmat, yang dapat menguasai diri pada situasi seberat apa pun dan sanggup merelasikan diri dengan situasi tersebut untuk menyatakan kebenaran dan pekerjaan Tuhan. Bukan kebenaran yang dinyatakan untuk diri sendiri, tetapi kebenaran yang berasal dari Tuhan dan yang diperuntukkan bagi orang lain.

Dengan demikian, pemuda Kristen mampu menjadi pemuda yang menyatakan kebenaran Allah di dalam hidupnya secara utuh, baik di dalam gereja, studi, pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Namun, kebenaran tersebut bukan untuk kemuliaan diri sendiri, tetapi semata-mata hanya untuk menyatakan Tuhan kita kepada dunia yang berdosa ini.

Sudah terlalu sering kita berkompromi dengan kebenaran. Mari kita sekali lagi berjuang, dengan pertolongan Roh Kudus, untuk menyatakan kebenaran Tuhan di atas muka bumi ini supaya semua lidah mengaku bahwa Kristuslah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa di surga!

Refleksi oleh: Stanislaus Ivanovich