A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 30 September 2016

Perikop Alkitab: John 10:14-16 ; Wahyu 2:7, 11, 17, 29; 3:6, 13, 22
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Di zaman sekarang, manusia sering kali bertindak bodoh karena tidak sanggup melihat Allah berkarya di dalam sejarah dan hidup kita. Kita lebih mudah membuat keputusan dengan berdasarkan “listen to my heart” tanpa pernah dengan sungguh-sungguh mencari tahu apa yang Tuhan mau di dalam hidup kita. Secara kasat mata, Allah memang tidak kelihatan namun Allah terus menopang dan berkarya di sepanjang sejarah umat manusia. Sebaliknya manusia berdosa adalah orang yang buta akan pimpinan Allah dan selalu berfokus membawa diri supaya bisa terlihat menonjol di tengah-tengah zaman ini. Cara pandang di dalam hati yang selalu mau menang dan membanggakan diri.

Manusia yang berhikmat adalah orang yang sanggup mendiamkan hatinya dan keinginannya yang berdosa untuk mendengarkan Roh Allah. Dengarlah dan berdiamdirilah di hadapan Tuhan di tengah kebisingan zaman yang terus membawa kita menjadi orang yang bodoh. Roh Kudus sedang memimpin hidup kita.

Terkadang kita anggap kita berani membuang sesuatu yang didambakan orang, lalu membuat jalan baru yang menurut kita sudah berbeda. Namun, tanpa kita sadari jalan baru yang kita buat itu ujungnya sama yaitu uang dan cari makan (keuntungan bagi diri). Pada hakekatnya setiap manusia tidak perlu diajarkan tentang hal demikian, kita pasti tahu untuk mengejar keuntungan bagi diri. Hanya Kristus saja yang berani meninggalkan itu semua. Berani menjalankan apa yang Bapa inginkan dan teriakkan bagi diri-Nya. Kristus sanggup mendiamkan hati-Nya dan kenginan-Nya. Kristus, Sang Hikmat telah memberi teladan bagi kita manusia berdosa yang terus bertindak bodoh.

Dalam hidup setiap manusia memiliki “mata uang”-nya masing-masing entah berupa uang, pengakuan, kesenangan pribadi, atau apapun nilai yang dianggap perlu oleh seseorang. Dengan mata uang itulah, hidup seseorang dibeli. Tetapi tahukah kita harga diri kita sendiri? Harga kita tidak sekadar “mata uang” yang fana itu tapi harga kita seharga nyawa Anak Tunggal Allah!

Apa yang membuat kita bertindak bodoh setiap harinya? Apa yang harus kita bereskan di dalam hidup? Mari sekali lagi kita belajar menjadi orang yang berhikmat dengan kesaksian hidup bagi Tuhan, benar-benar mengejar Tuhan, dan takut akan Tuhan. Kiranya Kristus, Sang Hikmat, membuat kita tidak dapat lagi dibeli oleh apa pun dalam dunia ini!

Refleksi oleh: Florence