A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 23 September 2016

Perikop Alkitab: Colossians 2:3
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Setiap kita pasti tahu, bahwa kita berbeda dari binatang dan tidak seorang pun dari kita mau disamakan dengan binatang. Tentu saja, itu benar sebab pada dasarnya manusia diciptakan berbeda dengan binatang. Otak gajah boleh lebih besar daripada otak manusia, namun hingga saat ini gajah tidak pernah memikirkan apalagi mencoba untuk berjalan dengan dua kaki, gajah hanya memiliki insting untuk berkembang biak dan bertahan hidup dengan cara yang sama dalam setiap generasinya. Berbeda dengan manusia, yang berani memiliki mimpi untuk terbang meski tidak punya sayap, terus berkembang di dalam pemikirannya untuk melampaui keterbatasannya, hingga hari ini kita sama-sama bisa menikmati apa yang namanya “terbang” dengan penemuan manusia yang disebut pesawat. Mengapa ada perbedaan sedemikiannya?

Manusia adalah ciptaan yang unik, karena manusia diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah (imago Dei), oleh hikmat Allah yang tidak terbatas dan diberikan suatu hak istimewa untuk boleh berelasi dengan Dia. Allah memperlengkapi manusia dengan hikmat dan pengetahuan serta kemampuan untuk belajar sehingga manusia di dalam kehidupannya boleh kembali menjadi umat-Nya yang memuliakan dan menikmati Dia. Secara teori, mungkin kita sudah tahu, namun di dalam praktiknya kita tidak mengerti apa artinya menjadi imago Dei. Kita menjadi orang pasif yang terus tenggelam di dalam arus zaman, kita telan bulat-bulat segala hal dan pemikiran yang dunia tawarkan tanpa tahu kebenarannya. Kita juga diberi hikmat, pengetahuan, dan kemampuan belajar untuk bisa melihat dunia ini dengan kacamata kebenaran, namun jika hikmat itu kita sia-siakan dan sibuk bermalas-malasan maka kekristenan kita tidak akan ada artinya. Hamba yang diberi lima talenta menghasilkan laba lima talenta, maka itulah yang namanya menyenangkan hati tuannya, sama seperti kita yang sudah Allah ciptakan dengan demikian unik, dengan semua anugerah dan kemampuan yang Dia sudah berikan, sangatlah bodoh jika kita tidak memaksimalkannya dan tidak bertumbuh di dalam hidup kita.

Takut akan Allah adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. Di dalam Dialah tersembunyi hikmat dan pengetahuan tertinggi. Kita menjadi orang bodoh ketika kita tidak dapat melihat bahwa Dia dan Firman-Nya adalah hal yang paling bernilai di dalam dunia dan terus mengejar kefanaan dunia seperti orang gila. Kita tidak dipanggil untuk menjadi orang bodoh, yang terus hidup di dalam kesia-siaan, sebab hidup kita yang seharga dengan darah Kristus ini adalah hidup yang harus menyatakan Allah di dalam setiap aspeknya, di dalam pemikiran maupun tindakan yang dilakukan. Seberapa berani kita menantang diri kita untuk melampaui batas kebiasaan kita demi memiliki hidup yang memuliakan Dia?

Refleksi oleh: Kelly Khesya