A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 16 September 2016

Perikop Alkitab: Proverbs 8:1-13
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Dalam zaman ini, ada orang-orang yang rajin mengumpulkan informasi/berita, dan merasa bahwa hal tersebut akan secara otomatis menjadikan dirinya sebagai orang yang berhikmat. Namun, apakah benar bahwa dengan mengetahui banyak informasi berarti secara otomatis kita adalah orang yang berhikmat? Ini merupakan suatu kesalahan berpikir karena kita tidak punya bijaksana untuk membedakan mana yang namanya data, informasi, pengetahuan, maupun hikmat serta hubungan di antaranya.

Tidak mengherankan jika ada orang yang memiliki banyak informasi, namun hal itu justru membuat ia menjadi orang yang semakin bodoh. Mengapa demikian? Karena pemilihan informasi yang salah akan menghasilkan pengetahuan yang salah. Banyak orang yang semakin belajar banyak, makin menganggap diri benar, padahal sesungguhnya ia salah. Manusia yang berhikmat akan mempunyai informasi, pengetahuan, dan data yang benar. Dari hikmat memimpin kepada pengetahuan yang benar, dan bukan sebaliknya. Ini yang seharusnya menjadi cara berpikir kita dalam mengejar kebenaran.

Hikmat adalah sesuatu yang personal, yaitu Kristus sendiri. Hikmat akan membawa kita kepada suatu totalitas dalam melihat kehidupan. Salomo melihat segala sesuatu yang manusia hidupi dalam kesementaraan, ketika tidak bisa dikaitkan dengan yang di atas matahari atau dengan diri Allah, maka segala usaha yang dilakukan tidak ada gunanya.

Selain itu, hikmat juga akan membawa kita semakin mengenal Allah. Oleh karena Kristus adalah Pencipta seluruh dunia ini, maka seluruh dunia ini harus dilihat di dalam Kristus. Jika tidak demikian, maka kita akan salah baca dan sia-sia. Pembelajaran akan kebenaran yang sejati akan membawa kita semakin mengenal diri dan mengenal Allah kita.

Hikmat juga akan membawa kita menjadi orang yang mengejar kebenaran dan bukan mencari nilai diri. Banyak orang yang belajar hanya untuk mengejar nilai dan tidak peduli mengenai benar atau salah, mengerti atau tidak mengerti, dan sebagainya. Banyak pendidikan yang cenderung menjadi the school of pride dan bukan the school of life before God.

Bagaimana dengan kita? Kiranya kita boleh menjadi pemuda pemudi yang semakin bersandar kepada Sang hikmat, yaitu Kristus Tuhan kita.

Refleksi oleh: Andre Winoto