A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 2 September 2016

Perikop Alkitab: 1 Corinthians 2:6-16; Acts 17:22-33
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Manusia sebenarnya mengetahui bahwa dirinya kurang berhikmat. Itulah sebabnya hari ini kita bersekolah, kita kuliah, kita belajar dari orang-orang yang lebih berhikmat, berharap bisa menambah hikmat kita. Kemudian, kita sebagai orang percaya juga berdoa kepada Tuhan Sang Pencipta, berharap Tuhan berbelaskasihan menurunkan hikmat kepada kita, ciptaan-Nya. Namun, apakah kita sungguh-sungguh siap untuk mendengar hikmat yang sesungguhnya?

Rasul Paulus menulis di dalam surat Korintus yang pertama bahwa hikmat Allah adalah kebodohan bagi dunia. Adanya perbedaan antara hikmat Allah dan hikmat dunia yang begitu besarnya hingga jikalau keduanya ada kemiripan, dunia tidak mungkin menyalibkan Tuhan yang mulia (1Kor. 2:8). Di zaman postmodern ini, hikmat dunia hadir dalam rupa kebohongan yang nikmat. Kita tahu hikmat dunia bukan kebenaran, tetapi karena ada kenikmatannya kita mau menerimanya dan bahkan dengan sukacita. Harta kekayaan, penghargaan dari orang lain, dan kenikmatan diri, semuanya adalah pencapaian yang dunia terus kejar. Kita tahu bahwa semua pencapaian ini adalah usaha dalam kesia-siaan. Sebab seluruh pencapaian yang kita bangun akan ditelan dengan begitu mudahnya oleh kematian. Meskipun demikian, kita tetap menjalankannya. Inilah hikmat dunia.

Kristus yang adalah peta dan teladan Allah yang sejati turun ke dunia, melepaskan segala sesuatu hanya untuk menyatakan Allah Bapa. Kristus bukan hanya menolak kenikmatan dunia, tetapi ia menerima cawan penderitaan yang tidak seorang manusia pun sanggup mengganti-Nya. Mengapa Kristus rela melakukan ini semua? Bukankah kita tidak pernah meminta Kristus untuk menanggung semua penderitaan tersebut? Israel hanya menanti Kristus yang bisa memulihkan keadaan Israel dari penjajahan bangsa Romawi. Bukankah lebih mudah bagi Kristus untuk menggenapkan yang dipikirkan oleh bangsa Israel di zaman itu? Tetapi Kristus tidak terjatuh dalam hikmat dunia ini yang menikmati kejayaan kesementaraan. Kristus membukakan hikmat yang tertinggi yang dianugerahkan-Nya kepada manusia, yaitu kembali kepada Allah, melayani dan menjalankan kehendak Sang Pencipta, bukan ciptaan. Dalam anugerah-Nya, Kristus memberikan kehidupan kekal bagi orang-orang yang mau meresponi panggilan-Nya, mengikuti Kristus, dan melepas seluruh kenikmatan dunia untuk menikmati Allah. Apakah yang dijanjikan dunia ini yang menahan kita untuk meresponi panggilan Tuhan untuk menjalankan kehendak-Nya yang sempurna? Maukah kita melepaskan kenikmatan duniawi ini untuk memperoleh kenikmatan yang lebih tinggi yaitu persekutuan dengan Allah kita? Kiranya Tuhan memampukan kita.

Refleksi oleh: Hanshen Jordan