A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 19 Agustus 2016

Perikop Alkitab: Proverbs 1:7; Proverbs 9:10
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Mahasiswa sebagai kaum intelek berada di dalam kondisi yang tertekan untuk terus mencari pengertian, mencari pengetahuan, ataupun mencari hikmat. Tekanan ini entah berasal dari ambisi diri sendiri, dari tuntutan zaman, dari paksaan keluarga, dan sebagainya. Sepanjang sejarah, umat manusia sudah menyaksikan begitu banyak orang yang berhikmat tetapi Alkitab mengatakan Raja Salomo adalah yang paling berhikmat. Kita melihat kembali pengejaran akan hikmat yang benar melalui kehidupan Raja Salomo. Raja Salomo, setelah dia meminta hikmat dari Tuhan, ia melihat hikmat yang ia miliki itu sia-sia. Mengapa ? Karena suatu fakta bahwa orang yang kurang berhikmat akan mati, tetapi orang yang dianggap berhikmat pun menuju kepada kematian. Jikalau semua menuju kepada kematian, maka apakah ada hal yang bermakna di dunia? Tentu tidak. Inilah hal yang sama yang terjadi pada diri kita. Kita terus mencari pengetahuan dan hikmat tanpa sadar bahwa dasar pencarian kita hanyalah sekadar mencari pengetahuan itu sendiri. Ataupun ada orang-orang yang mencari pengetahuan demi mendapatkan pencapaian seperti harta kekayaan, keluarga yang aman, dan sebagainya, tetapi kita sendiri tidak menyadari bahwa setiap hal yang kita capai itu tidak akan menyelamatkan kita dari kematian.

Raja Salomo mengajak kita melihat, bahwa hikmat, jika hanya pada dirinya sendiri hanyalah sia-sia. Bahkan hikmat jikalau hanya untuk mengejar hal yang berada di dunia ini, hal itu pun sia-sia. Perkataan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” terlihat sangat relevan dengan kehidupan manusia di zaman yang terus mengejar pencapaian duniawi.

Zaman postmodern ini, manusia mengejar akan hal yang bisa memuaskan keinginan diri kita sendiri secara sementara. Kita belajar hanya demi mendapatkan nilai ujian yang baik. Kita belajar hanya demi mendapatkan kepuasan di dalam kehausan akan data. Kita bekerja hanya demi mendapatkan penghasilan yang bisa menghidupi diri kita saat ini. Tetapi, kita tidak pernah memikirkan keseluruhan hidup kita.

Tapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Mat. 6:33). Satu formula yang begitu sederhana, jikalau kita mengejar hikmat dan tidak mengejar Allah, maka kita akan kehilangan Allah dan pasti kehilangan hikmat, tetapi jikalau kita mengejar Allah maka kita akan mendapatkan Allah dan kita pun pasti menjadi orang yang berhikmat. Karena itu, pengejaran akan hikmat haruslah dilakukan di dalam konteks takut akan Tuhan. Pengejaran akan hikmat haruslah dilakukan di dalam konteks meresponi panggilan Tuhan.

Sudahkah kuliah kita meresponi panggilan Tuhan? Sudahkah hidup kita menaati panggilan Tuhan? Sudahkah hidup kita mencari hikmat bukan kepada hikmat itu sendiri, tetapi di dalam penyerahan diri kepada Tuhan? Kiranya Tuhan yang memurnikan motivasi kita, memimpin langkah kita di dalam pengejaran akan kebenaran, dan menuntun kita untuk memuliakan dan menikmati Dia untuk selama-lamanya

Refleksi oleh: Alexander Herman William Ruhukail