A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 26 Agustus 2016

Perikop Alkitab: 1 Corinthians 1:18-2:5
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Berbicara tentang hikmat, mungkin sebagian besar di antara kita akan langsung berpikir tentang hikmat Raja Salomo. Namun dalam perikop ini, Rasul Paulus membandingkan hikmat Allah dan hikmat manusia. Pada ayat ke-24 dari perikop tersebut, ia juga mengatakan bahwa Kristus adalah hikmat Allah. Sebagai orang Kristen, kita sangat mengamini pernyataan Rasul Paulus tersebut. Tapi coba kita tanyakan pada diri kita sendiri: apakah maksud dari “Kristus adalah hikmat Allah”? Maka kita mungkin mulai menjawabnya dengan segala karya Kristus selama Ia ada di dunia sehingga menjadikan-Nya sebagai hikmat Allah. Kita juga mungkin mengatakan Tuhan Yesus adalah pernyataan Allah dalam dunia ini dan menjadi teladan sejati, maka Ia adalah hikmat Allah. Jawaban-jawaban yang kita berikan terdengar sangat baik, sangat memuliakan nama Tuhan. Namun di sisi lain, jawaban-jawaban kita bisa jadi malah makin menunjukkan betapa berdosanya manusia dan betapa bodohnya manusia yang berdosa itu. Mengapa demikian?

Kita sebagai pengikut Kristus mengakui Kristus sebagai peta teladan Allah yang sempurna dan hanya di dalam Dia kita bisa kembali dan mencapai pengenalan Allah yang sempurna sebagai satu keberadaan yang utuh. Dengan demikian, seharusnya kita mengerti bahwa hidup kita ini seharusnya God-centered, alias mengembalikan seluruh hidup ini untuk mengenal dan menyatakan Allah secara total. Namun pada kenyataannya, sikap hidup kita seperti manusia di luar sana yang tidak mengenal Allah yang sejati, yang menganggap hikmat Allah adalah kebodohan. Mengaku diri Kristen, sambil memajang Alkitab di rak buku kuno yang tidak tersentuh; mengaku diri Kristen, sambil meneriakkan nama Mamon untuk mengeluarkan kita dari kesulitan; mengaku diri Kristen, sambil menyandarkan diri dalam pelukan Mamon. Kita sambil percaya Kristus, sambil menghina Kristus.

Dunia sangat menikmati keduniawiannya yang mereka anggap sebagai hikmat, namun orang Kristen bukan menikmati Kristusnya, melainkan menukarkan Kristus untuk menikmati hikmat dunia ini (harta, gelar, prestige, dll). Pdt. Stephen Tong pernah mengatakan, bahwa hari ini manusia mengejar emas, namun Tuhan katakan di sorga nanti emas dijadikan-Nya ubin yang akan dinjak-injak pada akhirnya. Masihkah kita terus mengejar hikmat dunia ini? Mari kita memohon ampun di hadapan Tuhan dan meminta kekuatan sekaligus keberanian untuk menyatakan Kristus yang adalah hikmat Allah.

Refleksi oleh: Lydia Salim