A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 12 Agustus 2016

Perikop Alkitab: Numbers 11:1-6
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Bulan Agustus ini pesta olahraga terbesar yaitu Olimpiade 2016 di Rio Janeiro, Brazil, berlangsung dan menjadi sorotan dunia. Michael Phelps, perenang asal Amerika Serikat, yang paling mendapat sorotan karena terus berprestasi menyumbangkan sejumlah medali emas untuk negaranya dan terus memecahkan rekor dunia. Menjadi sorotan dunia, berprestasi, adalah hal yang sangat diidam-idamkan setiap orang, terutama orang muda, namun apakah benar hal-hal tersebut adalah yang terutama yang harus dikejar oleh manusia? Apakah ada yang salah dengan menjadi yang kita anggap terbaik, atau mendapatkan yang kita anggap terbaik?

Bilangan 11:1-6 menceritakan bagaimana bangsa Israel bersungut-sungut kepada Tuhan akan nasib mereka di padang gurun, yang setiap hari makan manna, sementara di Mesir mereka mendapat ikan dan bermacam-macam jenis makanan lainnya. Bangsa Israel bersungut-sungut karena mereka tidak menyadari keberadaan diri mereka yang adalah umat kepunyaan Allah, yang seharusnya tunduk terhadap otoritas Allah. Bahkan bangsa Israel mengidentifikasikan diri mereka serupa seperti bangsa-bangsa lain, yang bukanlah umat Allah, sehingga hidup di padang gurun dalam pemeliharaan Allah terasa lebih “menyiksa” dibandingkan hidup dalam perbudakan di Mesir.

Allah memberikan 5 kitab Musa yang diawali dengan kalimat, “Pada mulanya Allah menciptakan..” (Kej. 1:1). Hal ini menyatakan Allah yang adalah pencipta memegang otoritas tertinggi dan menyatakan kepemilikan-Nya atas seluruh ciptaan, termasuk kita manusia. Kita diciptakan oleh Allah dan untuk Allah, oleh karena itu bukankah seharusnya kepuasan diri kita juga berada di dalam Allah? Sebagai kepunyaan Allah, bukankah hanya kepada Allah saja kita mendedikasikan hidup kita? Kita sebagai manusia bukannya tidak tahu bahwa kita adalah ciptaan Allah, kita tahu namun kita menolak hidup mendedikasikan hidup kita untuk Allah. Kita hanya meresponi tuntutan dunia, mendedikasikan hidup kita sesuai tuntutan zaman, misalnya, eksistensi social media, berprestasi, kesuksesan, dan gelar yang prestise, dan lainnya. Apakah salah merindukan hal-hal yang baik (lebih tepatnya: yang kita pikir baik) terjadi dalam hidup kita ? Bangsa Israel merindukan hal-hal yang baik (menurut pandangan mereka), yang mereka dapatkan di Mesir, namun ketika itu tidak sesuai dengan otoritas Allah maka itu bukanlah hal yang baik. Sekali lagi, sebagai umat kepunyaan Allah bangsa Israel harus tunduk pada otoritas Allah. Manusia sebagai ciptaan Allah pun harus demikian, meletakkan setiap keinginan kita di dalam otoritas Allah, dan kepuasaan diri kita di dalam Allah. Ketika kita hidup sebagai manusia yang menyadari keberadaan diri kita sebagai umat Allah, sesungguhnya ada nilai dan kepuasaan yang berbeda. Meskipun di dalam kepuasaan dunia yang terbatas, hidup yang mengembalikan diri kepada Allah, adalah hidup yang sesungguhnya, yang berada di dalam kepuasan yang sejati, bukan kepuasan yang kosong. Saat Tuhan Yesus memerintahkan pergi menginjili, murid-murid pergi dengan tangan kosong, dan siap menanggung segala risiko karena mereka mengerti bahwa hidup dan mati mereka ada di tangan Tuhan, Tuhanlah yang memegang otoritas tertinggi dalam hidup mereka. Meskipun tangan mereka kosong, namun mereka telah memenuhi hati mereka dengan sukacita terbesar, yakni Allah sendiri.

Mari kita terus belajar mendefinisikan diri sebagai umat kepunyaan Allah, yang terus mendedikasikan diri mengejar kehendak Allah. Marilah kita belajar menjadi manusia yang berani meletakkan kepuasan diri hanya kepada Allah, sehingga kita boleh memperoleh kepuasan yang sejati, bukan mengisi hidup kita dengan kekosongan, karena hanya Allah yang berotoritas, yang adalah pemillik hidup kita.

Refleksi oleh: Runy Pongsitanan