A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 29 Juli 2016

Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Dalam novelnya, Mitos Sisipus, Albert Camus membukakan sebuah dilema filosofis: masalah bunuh diri. Camus mengatakan bahwa masalah ini membuat makna hidup menjadi pertanyaan terpenting dalam hidup ini. Ketika Camus menuliskan hal ini, ia mewakili kebanyakan orang dalam zaman ini. Itulah sebabnya ia mendapatkan Nobel pada tahun 1957. Pertanyaan ini masih eksis sampai saat ini untuk dijawab dan kita, orang Kristen, mengklaim bahwa kita memiliki jawabannya.

Ketika Camus, seorang atheis, menulis bahwa permasalahan makna hidup dan jawabannya muncul dalam suatu absurditas di antara berbagai paradoks yang lahir dari asumsi ketiadaan Tuhan, kita menolak. Kita menyatakan bahwa hidup manusia dicipta oleh Tuhan dan kita dapat menemukan makna di dalam-Nya. Kita ahli dalam menjawab pertanyaan semacam ini tetapi, anehnya, kehidupan kita jauh lebih absurd daripada mereka yang tidak mengenal Tuhan. Kita, yang katanya mempunyai jawaban, malah lebih memilih ikut mencari jawaban di tengah-tengah orang dunia. Kita bahkan tenggelam di dalam arus penyembahan ilah-ilah dunia. Betapa malangnya kita!

Sebagai orang Kristen, yang seharusnya bergantung seluruhnya dalam providensi dan pewahyuan Allah, kita lebih memilih menghidupi hidup seakan-akan kita berdiri di atas kaki kita sendiri yang rapuh – membanting tulang mencari kepuasan diri dan mengisi otak kita dengan hal-hal yang kita senangi. Semua klaim kita menambah inci kemunafikan dalam untaian ucapan kita.

Yesus menuntut kita untuk menghidupi hidup yang otentik. Mencintai Dia atau tidak sama sekali. Kehidupan yang memberikan seluruhnya bagi Tuhan sebagai respons atas hadirnya Kristus pada saat itu juga. Kita dituntut untuk menghidupi masa lalu di dalam iman, masa depan dalam pengharapan, dan kasih pada-Nya di setiap momen keberadaan kita saat ini. Memang benar yang dikatakan firman Tuhan, bahwa di antara ketiganya, yang terbesar adalah kasih. Kasih yang dituntut pada saat ini – di dalam Eternal Now. Kemunafikan kita tidak akan mendapatkan tempat pada kekristenan macam ini. Mau sampai kapan kita menghidupi kemunafikan kita?

Refleksi oleh: Robin Gui