A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 22 Juli 2016

Pengkhotbah: dr. Diana Samara

Di dalam Efesus 4 yang berbicara tentang kesatuan gereja Tuhan, Paulus menganjurkan jemaat untuk memelihara kesatuan dalam Roh. Apa itu kesatuan dalam Roh? Yaitu kesatuan yang terjadi oleh karena karya Roh Kudus di dalam diri setiap orang percaya. Roh Kudus bekerja di dalam diri setiap orang percaya untuk melahirbarukan dan menghidupi kebenaran. Kebenaran inilah yang mempersatukan orang-orang yang sudah ditebus. Mereka semua bersatu menjadi jemaat yang beribadah kepada Allah Tritunggal.

Jemaat adalah orang yang sudah lahir baru dan mempunyai komitmen dasar kepada Kristus Sang Juruselamat. Jemaat Kristen yang sejati memiliki kehidupan yang mengalami sanctification dalam hidupnya, termasuk komitmen terhadap kebenaran. Walaupun memiliki komitmen yang sama terhadap kebenaran yang objektif, komitmen ini memiliki sifat subjektif. Hal ini karena orang-orang yang menerima Kristus sebagai Juruselamat memiliki pergumulan yang berbeda satu dengan lainnya. Maka jangan heran bila dalam satu persekutuan, sama-sama percaya Kristus, ada yang sudah kokoh percaya bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, ada yang masih bertanya-tanya mengenai hal itu. Ada urutan pembelajaran yang subjektif dari setiap orang percaya. Jadi walaupun satu, gereja tetap terdiri dari orang percaya yang memiliki pergumulan berbeda-beda. 

Belajar menangani perbedaan adalah tugas kita sebagai satu jemaat, yang bergantung satu dengan yang lain. Belajar bersatu tidak lepas dari belajar menangani perbedaan. Perbedaan ini tidak bisa dihadapi hanya dengan melontarkan kalimat demi kalimat yang meyakinkan sebagai hasil dari pergumulan hidup kita.  Karena ketika kita flash back pergumulan ini dan mendefinisikan seluruh peristiwa, semuanya pasti terasa lebih mudah. Perbedaan tidak bisa ditangani dengan cara seperti demikian, tetapi kita harus terjun dan menjadi bagian dalam menangani perbedaan ini. Perbedaannya bagaikan kita mengoreksi sebelas pemain sepak bola ketika menonton dari televisi, dibandingkan dengan ketika kita terjun ikut bermain dan mengoreksi sebagai satu tim sepak bola. Sebagai satu jemaat, kita harus belajar untuk terjun menangani perbedaan sebagai satu tubuh Kristus, bukan hanya dengan memberikan lontaran kalimat yang menyakinkan saja. Kita perlu bersama-sama menggumuli bagaikan tubuh yang sama-sama mengalami dampak kesakitan dari salah satu anggota tubuhnya. Inilah artinya menjadi jemaat yang satu dan saling menutupi kelemahan satu dengan lainnya namun dengan sama-sama masing-masing individu terus memacu dirinya untuk semakin bersatu dengan lainnya. Inilah salah satu ciri utama kehidupan kekristenan yang mengenal kebenaran. Kenalkah kita sungguh-sungguh akan kebenaran Tuhan?

Refleksi oleh: Reynard J. Setiadi