A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 16 Desember 2016

Perikop Alkitab: Ephesians 4:14-16
Pengkhotbah: Diana Samara

Cara pandang atau worldview adalah sesuatu yang dimiliki semua orang. Akan tetapi cara pandang yang benar tidak dimiliki oleh semua orang. Jika ada yang mengatakan bahwa cara pandang setiap orang adalah benar. Dengan kata lainnya, setiap orang memiliki cara pandang masing-masing yang di mana semua itu dianggap benar, dengan kata lain, tidak ada satu pun yang paling benar. Nyatanya ia sedang bercara pandang satu yaitu relativisme yang menganggap kalau kebenaran itu relatif, tergantung pada masing-masing orang.

Salah satu contohnya adalah 1+1=2. Kita semua yakin ini adalah kebenaran yang absolut. Bagaimana dengan 1+1=2,001 atau 1+1=2,4, seolah tidak ada kesalahan dalam pernyataan matematika ini bukan bila hasil penjumlahan tersebut kita bulatkan? Lalu jika benar begitu, yang manakah kebenaran yang kita pegang menjadi sebuah dasar atau fondasi? Hanya ada satu kebenaran yang menjadi dasar atau fondasi yaitu 1+1=2, bukan? Bayangkan jika kita menganggap semua itu benar, dan memegang semuanya. Perhitungan dalam dunia teknik akan menjadi kacau balau dengan adanya perbedaan sebesar 0,4 atau 0,001. Dengan memegang 1+1=2 sebagai dasar, maka kita dapat menggunakkan pemotongan desimal atau pembulatan dari 1+1=2,001.

Perbedaan cara pandang seperti ini akan menciptakan benturan-benturan. Di dalam setiap detik hidup kita benturan itu selalu terjadi, dan semakin lama semakin besar goncangannya. Kita semua tentu tidak asing dengan efek benturan yang dimaksud. Mulai dari perseteruan dengan teman, perdebatan dengan harapan meluruskan hal, dan bahkan dijauhi oleh orang di sekitar kita. Jika kita tidak tahu di mana tempat kita berpijak dan tempat kita bersandar atau berlindung, digoncang sedikit saja, kita akan berkompromi jika bertemu dengan masalah. Dan kelanjutan dari hidup yang berkompromi, adalah hidup yang dengan mudah merelatifkan segala sesuatu.

Seorang Kristen layaknya seorang yang lahir kembali. Bertumbuh mulai dari bayi, kemudian anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Setiap benturan yang datang bagaikan makanan bernutrisi, jika kita taat dan setia kepada Tuhan. Orang yang tidak tahan benturan, seperti orang yang terbang ke mana pun arah angin bertiup. Menandakan bahwa orang tersebut masih anak-anak. Sedangkan orang yang sudah dewasa, seperti pohon yang kuat akarnya, karena tumbuh di daerah yang selalu diterpa angin kencang. Karena itu seorang Kristen adalah orang yang harusnya hidup dengan memiliki satu cara pandang, yaitu cara pandang Kristen untuk melihat dan menilai segala ciptaan Tuhan. Kita harus berani hidup seperti ini; dari anak-anak rohani bertumbuh menjadi seorang yang dewasa rohani di dalam satu kesatuan sebagai satu kesatuan Tubuh Kristus.

Refleksi oleh: Jessica Sung