A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 9 Desember 2016

Perikop Alkitab: Matthew 5:13-16
Pengkhotbah: Vic. Edward Oei

Berbicara mengenai Gereja sebagai garam dan terang dunia merupakan hal yang tidak asing lagi bagi kita sebagai orang Kristen. Kita sudah sangat sering mendengar berbagai khotbah mengenai hal ini dan membaca bagian Alkitab yang berkaitan dengan hal ini. Kali ini kita kembali diingatkan mengenai Gereja, yaitu kita, adalah garam dan terang dunia.

Ada tiga poin dalam pembahasan mengenai hal ini. Pertama kita bukan ingin menjadi atau akan menjadi garam dan terang, tetapi kita adalah garam dan terang dunia. Kedua, garam sebagai sesuatu yang bersifat minoritas, menyatu, dan “menghilang” dalam mayoritas, tetapi yang memberikan arah dan rasa bagi keseluruhan di mana ia ditempatkan. Ketiga, terang bersifat aktif, tegas, dapat dilihat terangnya dan tanpa kompromi. Saat terang itu hadir maka kegelapan harus menyingkir, keberadaan kegelapan itu ditentukan oleh terang. Dan semuanya ini ada dalam konteks yang disebut oleh John Calvin sebagai the theatre of God, kita hanya merupakan alat yang dipakai oleh Allah. Orang lain melihat bagaimana Allah berkarya melalui kehidupan kita dan melihat kemuliaan Allah melalui kehidupan kita dan pada akhirnya hanya Allah yang dipermuliakan, bukan kita.

Bagaimana dengan peranan orang Kristen di dalam dunia, di lingkungan kita berada? Ada empat kemungkinan sikap atau posisi sebagai orang Kristen yang dibahas: Pertama, kita menyatu dengan dunia, kedua, kita terpisah sama sekali dengan dunia, ketiga, kita seperti bersatu dengan dunia, tetapi sebenarnya terpisah dan keempat, kita bersatu dengan dunia, berbeda dengan dunia dan menarik dunia untuk menjadi sama dengan kita. Pilihan keempat merupakan yang paling mendekati apa yang dikatakan oleh firman Tuhan. Sudahkah kehidupan kita sesuai dengan pilihan keempat ini?

Kemungkinan besar belum sama sekali. Mungkin kita seperti pilihan pertama, yang menyatu dengan dunia, karena kita berpikir ini adalah satu-satunya cara agar kita dapat mengubah dunia. Namun, dengan begitu sesungguhnya kita tidak pernah menjadi garam dan terang, karena kita yang mengikuti dunia, dunia yang justru “memberikan arah dan rasa serta menentukan keberadaan kita”. Atau mungkin kita berpikir hidup suci adalah terpisah dari dunia, tidak peduli sama sekali dengan apa yang ada dan dilakukan dunia ini. Sikap ini juga salah, kita seperti pelita yang diletakkan di bawah gantang atau garam yang tidak pernah dimasukkan dalam makanan, kita tidak berfungsi sesuai dengan identitas kita. Mungkin juga kita selama ini seperti sikap yang ketiga, orang lain melihat kita sebagai orang yang aneh sendiri. Kita memberikan arah, tetapi justru arah yang selalu membuat orang menjauh dari kita dan menertawakan keanehan kita. Kelihatannya kita bersatu tetapi sebetulnya kita tidak menyatu, hanya berada bersama seperti garam yang tidak larut dalam masakan.

Seharusnya kita bersatu dengan dunia, tetapi pasti berbeda dengan dunia. Dan justru dengan perbedaan yang ada, saat dunia melihat kita mereka tertarik kepada kita dan berkata dalam hatinya, seharusnya saya seperti itu. Bukan kita yang mengikuti mayoritas, dunia ini, tetapi dunia justru yang ditarik oleh kehidupan kita yang menyatakan kebenaran dan dunia boleh melihat dan memuliakan Allah melalui kehidupan kita. Mari kita bertobat, hidup sesuai dengan identitas kita dan berjuang menghadirkan the theatre of God bukan the theatre of man di mana orang justru memuliakan kita yang berarti kita berdosa mencuri kemuliaan Allah. Kapankah orang di sekitar kita menjadi gelisah hatinya, dan berkata “Seharusnya saya seperti kamu” karena melihat serta memuliakan Allah di sorga setelah melihat kehidupan kita?

Refleksi oleh: Ben Hanan