A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 2 Desember 2016

Perikop Alkitab: Matthew 5:13-16
Pengkhotbah: Vic. Edward Oei

Selama ini apa yang kita lihat terhadap dunia ini? Sebagai apa kita melihat dunia? Mungkin kita melihat dunia ini sebagai sekadar tempat yang selayaknya untuk kita hidupi sebagai manusia. Kita menganggap dunia ini sebagai suatu tempat di mana kita bisa mengekspresikan diri kita secara bebas dengan maksud menyatakan diri di tengah-tengah lingkungan. Lalu apa yang salah dari cara pandang ini? Kita melihat dunia dari kacamata kita sebagai “saya”, sebagai diri kita saja. Dunia kita tempati untuk dapat melakukan segala sesuatunya dengan tujuan kembali kepada kepuasan dan kemuliaan diri kita. Dan tentunya ini bukan cara pandang kekristenan. Padahal, dunia ini ini merupakan theatre of God seperti yang dikatakan John Calvin, di mana kita adalah hanya pemain di dalamnya yang tugasnya hanya mengikuti kehendak dari Sang Sutradara; yaitu Allah Pencipta Langit dan Bumi.

Seperti apa yang dikatakan di dalam Injil Matius 5:13-16, Allah menjadikan kita sebagai garam dan terang dunia. Selama ini kita mencoba menjadi garam dengan berusaha meyakinkan eksistensi kita di dunia melalui pergaulan, kita mencoba melakukan pendekatan kepada seseorang atau sekelompok orang yang dianggap “gaul”, atau mungkin melakukan atau/dan mempunyai hal-hal yang dianggap masyarakat zaman sekarang “keren” atau “trendy”; melalui pendidikan dan pekerjaan, kita berusaha mencari sekolah yang unggul dan menjadi yang terbaik di kelas atau sekolah, dan kita berusaha mencari lapangan pekerjaan dan perusahaan dengan gengsi yang tinggi. Selama ini kita berusaha menggapai itu tanpa peduli hidup kita menunjukkan karya Allah di dalam hidup kita dan dalam dunia, akibatnya lingkungan tidak melihat dan meresponi kehadiran gereja kecil ini. Kita hanya berpikir yang penting kita menjalankan apa yang menjadi tujuan kita karena dunia ini adalah theater of me.

Mungkin selama ini kita memang berusaha menjadi garam. Tetapi kita menjadi garam, tanpa berusaha menjadi terang. Kita hanya terus melakukan perbuatan yang memang baik, dengan tujuan kita berusaha merangkul semua orang. Kita mencoba menjadi pribadi yang dapat diterima oleh semua orang dari semua kalangan, tanpa menyalakan terang yang menyudutkan dan melenyapkan kegelapan; tanpa mendasari hidup kita dengan memperlihatkan kontras kebenaran yang seharusnya. Kita menganggap berbuat baik sudah cukup menjalankan kehendak Tuhan terhadap kita di bumi. Kita berbuat baikkah, atau kita sebenarnya mencari aman dalam menjalani kehidupan karena dunia adalah theater of me?

Sekali lagi, kita berada di dalam theater of God di mana panggung ini ada untuk meninggikan kemuliaan Allah, bukan kemuliaan kita. Kita telah mempunyai arahan-arahan yang langsung dari Kitab Suci, sehingga seharusnya kita mengerti bagaimana harus menjalankan kehendak Allah di bumi, menjadi garam yang dapat terasa asin oleh orang-orang yang kita taburi, sekaligus menjadi terang yang menyilaukan dosa-dosa sesama kita di rumah ciptaan Tuhan.

Refleksi oleh: Friska