A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 25 November 2016

Perikop Alkitab: Matthew 5:13-16
Pengkhotbah: Vic. Edward Oei

Semua manusia pasti punya cita-cita. Paling tidak di dunia kita bercita-cita menjadi seseorang yang pernah melakukan sesuatu yang membanggakan atau bisa diingat di masa tua. Apakah itu menjadi miliarder, presiden, ilmuwan, pilot, dokter, atau sekadar ibu rumah tangga yang sukses membimbing anak-anaknya. Bahkan, kita orang Kristen yang disebut sebagai “anak Tuhan” sering berpikir bahwa suatu hari “saya harus jadi orang”, “anak Tuhan yang baik itu adalah orang yang nantinya sukses”, “berkarier tinggi dan mampu menaklukkan dunia”. Kesannya tidak ada yang salah, namun sebenarnya di balik itu apa yang mau kita tunjukkan? Keberhasilan dan kesuksesan diri atau menjalankan panggilan dan kehendak Tuhan dalam hidup?

Tuhan Yesus memberi perumpamaan di dalam Matius 5:13 tentang garam dunia. Kita adalah garam, ya kamu dan saya. Garam itu butiran kecil, hampir tidak terlihat dalam suatu masakan. Tetapi walau sedikit, garam memberi rasa yang enak pada masakan tersebut. Hidup kita ini seperti garam, memberi rasa dan pengaruh bagi orang-orang di sekeliling kita melalui hidup kita. Tutur kata, tingkah laku, cara berpikir kita harusnya bisa memberi gambaran tentang siapa Kristus bagi orang-orang di sekeliling kita. Bukankah kita memang dicipta menurut gambar dan rupa-Nya untuk memancarkan kemuliaan Tuhan?

Kesuksesan kita tidak dilihat dari seberapa banyak prestasi yang kita raih. Kesuksesan kita justru dilihat dari seberapa banyak cara berpikir, perkataan, dan tingkah laku kita yang sederhana memberi pengaruh dan arti yang baru bagi orang di sekitar kita, membawa orang merasakan Kristus di dunia ini – menjadi garam. Mungkin dengan menjadi garam yang kecil kita tidak akan menjadi orang besar dan terkenal, tapi nyatanya Allah memanggil kita untuk menjadi garam di tengah dunia ini. Dan yang perlu menjadi renungan kita adalah, apakah saya garam yang asin atau garam yang sudah menjadi tawar? Ingat bahwa garam yang tawar tidak akan pernah ada gunanya lagi selain diinjak dan dibuang orang. Mari kita meminta pertolongan Tuhan agar kita boleh menjadi garam di tengah dunia yang terus membuat kita menjadi tawar. Tuhan memberkati.

Refleksi oleh: Grace Hardiana