A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 18 November 2016

Perikop Alkitab: Matthew 5:13-16
Pengkhotbah: Vic. Edward Oei

Umat Tuhan dipanggil sebagai garam dan terang dunia. Kita dipanggil menjadi wakil Tuhan dalam dunia dengan membawa wahyu dari Tuhan untuk membangun dunia ini. Dunia di sini dapat digambarkan sebagai teaternya Tuhan. Jadi kita dipanggil untuk membangun teaternya Tuhan, bukan membangun teater kita sendiri. Kita mungkin merasa kita sudah membangun teaternya Tuhan, tapi ketika dunia melihat kita, benarkah mereka kemudian bisa memuliakan Tuhan? Atau mereka kemudian hanya melihat kita dan tidak bisa melihat Tuhan yang seharusnya kita wakili?

Kita hidup dalam dunia yang menilai kita dari pencapaian yang bisa dilihat, maka kita sering kali merasa hidup kita sudah cukup baik ketika kita bisa mencapai berbagai prestasi dalam studi maupun kehidupan beragama kita. Kita merasa kita sudah menjadi garam dan terang dunia. Kita merasa orang bisa mempermuliakan Allah melalui pencapaian hidup kita. Tetapi kalau kita mau sungguh-sungguh jujur, sebenarnya kita pasti tahu siapa yang dipuji melalui setiap “pencapaian” kita. Kita sebenarnya sudah tahu teater siapakah yang sedang kita bangun.

Kita juga sering kali terperangkap dalam ego kita. Ketika kita merasa kita sudah “naik kelas”, kita rasanya gengsi jika harus melakukan suatu pelayanan kecil yang bisa dikerjakan oleh orang-orang yang baru. Kita merasa kita sudah berada di level kelas yang “tinggi” maka sulit sekali bagi kita untuk bisa merendahkan diri kita. Tetapi Alkitab mencatat hidup pengikut Kristus yang memberikan teladan yang sangat baik bagi kita. Bagaimana Yohanes pembaptis yang walaupun sudah terkenal tetap mampu memosisikan diri dengan benar ketika bertemu Kristus. Sikap seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh seorang Kristen.

Marilah kita sekali lagi menilik hidup kita. Benarkah kita selama ini sudah hidup sebagai garam dan terang dunia? Karena kalau hidup kita tidak memberikan pengaruh yang bisa membawa orang lain memuliakan Tuhan maka hidup kita tidak ada gunanya. Apalah artinya garam jika tidak asin. Marilah kita jujur melihat apakah melalui hidup kita, orang bisa mempermuliakan Tuhan. Bisakah kita mengerjakan setiap hal besar ataupun kecil yang dianugerahkan kepada kita? Marilah kita kembali bersandar pada Tuhan dan belajar bagaimana kita bisa menjadi garam dan terang dunia yang bisa mempermuliakan Tuhan dalam hidup kita.

Refleksi oleh: Yuliana