A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 4 November 2016

Pengkhotbah: Vic. Edward Oei

Pada zaman sekarang ini Allah tidak lagi menuntut kita untuk mempersembahkan domba sebagai korban bakaran Paskah, karena Tuhan Yesus telah mengorbankan diri-Nya untuk menebus kita dari dosa-dosa kita. Namun tahukah kita domba yang dipersembahkan saat Paskah haruslah domba yang kudus, di mana sudah dipersiapkan bahkan dari 1 tahun sebelumnya. Domba yang dipersiapkan harus dipilih yang tidak bercela, harus dirawat, dijaga agar tidak sakit, lalu sampai akhirnya bisa dipersembahkan saat Paskah.

Setelah kita ditebus apakah berarti kita bisa hidup semau kita? Tidak. Karena setelah kita ditebus berarti hidup kita harus diserahkan kepada Tuhan sebagai milik-Nya. Dalam Roma 12:1 menyatakan bahwa kita harus mempersembahkan diri kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah. Hidup yang kudus (Bahasa Ibrani : Qadosh) berarti hidup yang dikhususkan dari awalnya untuk dipersembahkan bagi Tuhan.

Saat mengambil keputusan dalam sebuah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) untuk menjadi orang Kristen yang mau hidup bagi Tuhan mungkin kita akan dengan spontan mengangkat tangan kita dan berjanji. Namun bagaimana setelah itu? Apakah kita tetap konsisten melayani Tuhan setelah 1 bulan atau 6 bulan kemudian? Di tengah-tengah dunia yang penuh dengan cobaan, bagaimana hidup kita masih boleh konsisten melayani Tuhan dengan tidak bergeser dari fokus hidup kita untuk memuliakan Tuhan?

Seperti layaknya domba yang dipersiapkan untuk dipersembahkan pada saat Paskah, seperti itulah seharusnya sikap hidup kita, di mana hidup kita dikuduskan, seluruh aspek hidup kita dari kuliah, pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan dalam apa pun harusnya kita menyerahkannya kepada Tuhan. Mari kita belajar untuk memiliki integritas di dalam hidup bagi Tuhan di mana hanya ada satu fokus yaitu untuk memuliakan nama Tuhan dan tidak mau digeser oleh apa pun di sekitar kita, karena sekali kita kompromi maka itu akan menjadi lubang yang cukup besar untuk menjadi celah dosa yang semakin besar. Mari kita berdoa dan minta Roh Kudus untuk menuntun kita yang lemah ini.

Refleksi oleh: Billy Salvatore