A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Christian Worldview, 28 Oktober 2016

Perikop Alkitab: Ephesians 2:1-11
Pengkhotbah: dr. Diana Samara

Waktu berlalu dengan sangat cepat. Tidak terasa kita telah mencapai umur yang kita miliki saat ini. Banyak sekali yang berubah di dalam dan di luar diri kita seiring berjalannya waktu. Perubahan merupakan hal yang wajar dan pasti terjadi dalam diri seorang manusia, tetapi yang menjadi pertanyaan adalah ke manakah arah kita berubah? Dari keadaan semula berubah menjadi keadaan yang seperti apa?

Waktu sering kali menjadi obat penghilang ingatan yang paling manjur. Banyak sekali hal yang kita lupakan dari waktu ke waktu. Dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen juga tidak terluput dari efek waktu yang satu ini. Tuhan menegur jemaat Efesus dalam Kitab Wahyu 2, bahwa mereka telah meninggalkan kasih yang semula. Jemaat Efesus digambarkan bukan sebagai jemaat yang sudah lesu dan tidak lagi giat untuk Tuhan. Tuhan justru mengatakan bahwa mereka adalah jemaat yang tekun, sabar menderita oleh karena nama Tuhan, dan tidak mengenal lelah. Ternyata fenomena yang terlihat di luar tidak selalu menjamin apa yang ada di dalam sebuah jemaat.

Sama seperti jemaat Efesus, kita yang hidup di zaman sekarang juga sangat mungkin menjadi seperti demikian. Waktu memungkinkan kita untuk memiliki pengalaman. Pengalaman dapat menjadi guru yang paling baik sekaligus penghambat yang paling buruk. Ketika kita bergantung hanya kepada pengalaman, kita mungkin sekali menjadi sombong, mudah merendahkan orang lain, sulit belajar, dan tidak bergantung lagi kepada Tuhan. Bergantung kepada pengalaman adalah jalan yang mudah dan nyaman. Jika kita sudah terbiasa dengan sebuah pola pengalaman, enggan rasanya untuk kembali mempertanyakan, menyesuaikan konteks, dan melakukan pengembangan. Akhirnya, bahan pergumulan kita di hadapan Tuhan menjadi sangat miskin. Tidak heran jika kehidupan pelayanan maupun kehidupan sehari-hari menjadi lesu dan tidak bergairah.

Berkebalikan dari hidup yang sangat bergantung dengan pengalaman, hidup yang selalu menghina pengalaman dan struktur yang sudah ada juga bukanlah hidup yang Tuhan inginkan. Tuhan jelas-jelas bekerja melalui sejarah dan terdapat banyak wahyu umum yang Tuhan bukakan melaluinya. Kegagalan belajar dari pengalaman dan sejarah akan membuat kita menjadi orang yang tidak dapat berkembang jauh karena selalu mengulang yang sebenarnya sudah pernah digumulkan di masa yang lampau (reinvent the wheel) dan tentu saja kesombongan telah menengok dari balik pintu.

Ketika umur kita semakin bertambah, sudahkah kita merenungkan bagaimana hidup pengalaman kita di hadapan Tuhan? Apakah pengalaman membuat kita semakin bebal atau semakin bijak? Semakin sulitkah kita belajar dan mendengarkan orang lain? Apakah kita melupakan posisi kita yang semula dan perlahan-lahan menjadi sulit mengasihi orang yang kita anggap kurang?

Seorang theolog bernama Cornelius van Til pernah mengajarkan bahwa kita tidak boleh menjadi abstrak dalam menjalankan kekristenan karena akan membuat Firman Tuhan menjadi prinsip yang mati. Abstrak berarti memisahkan prinsip Firman Tuhan dari pribadi Tuhan yang hidup dan konteks yang Tuhan berikan. Mari kita menjadi orang Kristen yang belajar dari pengalaman dan sejarah tetapi tidak kehilangan kekuatan untuk melakukan kontekstualisasi. Semoga hanya kasih Tuhan yang menjadi sumber kekuatan kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia.

Refleksi oleh: Rolando