A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Expository Preaching, 6 Oktober 2016

Perikop Alkitab: Hosea 13:1-14:1
Pengkhotbah: Vic. Edward Oei

Bangsa Israel adalah bangsa yang taat melakukan ritual-ritual ibadah. Namun justru Tuhan mengganggap bahwa bangsa Israel bangsa yang tidak setia, dan berulang kali dimurkai oleh Tuhan. Kita sering mendengar tentang hal ini bukan? Lalu kita berpikir bahwa kehidupan kerohanian kita lebih baik dari bangsa Israel. Sebagai pemuda Kristen masa kini, walaupun hanya di dalam pikiran kita, kita pernah atau bahkan sering menghina bangsa Israel, yang tidak pernah belajar dari kesalahannya. Apakah benar bahwa kehidupan kerohanian kita, sebagai pemuda-pemudi Kristen, yang penuh dengan aktivitas rohani, lebih baik dari bangsa Israel? Atau jangan-jangan kehidupan rohani bangsa Israel justru yang lebih baik, dan kehidupan kita justru sedang menanti murka Tuhan?

Kehidupan kekristenan kita mungkin memang penuh dengan aktivitas rohani, namun sesungguhnya kita berdosa di hadapan Tuhan, karena di luar aktivitas rohani, kita sendiri yang menjadi Tuhan atas hidup kita! Kita mengganggap bahwa “saya sudah melakukan yang Tuhan minta dan yang Tuhan mau, sekarang waktunya saya”. Kita mengganggap bahwa segala sesuatu yang sudah ada, yang sudah dikerjakan itu sudah cukup, dan kita tidak pernah berpikir apa yang masih kurang dalam hidup kita, apa yang belum kita lakukan untuk menyenangkan hati Tuhan. Di luar aktivitas rohani kita (yang kita anggap menyenangkan Tuhan, namun justru melukai hati Tuhan) sudahkah kita mengatur hidup kita sesuai dengan yang Tuhan inginkan kita atur? Kita mungkin akan lebih memilih tidur panjang, jalan-jalan, main game, melakukan hobi kita, dan hal-hal lain yang kita atur semau kita, karena kita berpikir yang maunya Tuhan sudah kita selesaikan. Hal ini menunjukkan, di luar kehidupan rohani kita, kita tidak mampu melampaui tubuh yang berdosa ini untuk ditaklukkan kepada kehendak Tuhan, bahkan kita tidak sadar bahwa kita perlu memperjuangkan untuk hidup melampaui tubuh yang berdosa ini. Sesungguhnya dengan cara hidup kita yang seperti ini, kita juga sama buruknya dengan bangsa Israel, bahkan lebih buruk, karena Israel begitu setia melakukan ritual dan upacara ibadah, sedangkan aktivitas kerohanian kita on-off tidak jelas.

Mari belajar bahwa apa yang sudah ada pada kita tidak akan pernah cukup membawa kita surga, karena sesungguhnya kita tidak layak. Karena itu, mari kita belajar untuk hidup rendah hati di hadapan Tuhan, dan terus merenung apa yang masih kurang, hal apa dalam hidup kita yang belum kita persembahkan bagi Tuhan. Mari dengan bijaksana kita mau menyadari bahwa hidup kita yang masih rusak, boleh dikembalikan kita kepada Tuhan seutuhnya, oleh tangan Tuhan sendiri, dengan rendah hati dan hidup bergantung penuh kepada Tuhan.

Refleksi oleh: Runy Pongsitanan