A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Expository Preaching, 29 September 2016

Perikop Alkitab: Hosea 12:1-15
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Kita mengenal reputasi bangsa Israel sebagai bangsa yang mendapatkan belas kasihan yang begitu besar oleh Tuhan. Berkali-kali Israel memberontak, berkali-kali pula mereka diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bertobat. Tetapi bukannya bertobat, Israel semakin menganggap sepi kehadiran Allah, bahkan sampai dikatakan semakin Tuhan memanggil mereka, Israel semakin pergi dari hadapan Tuhan (Hos. 11:2). Begitu kejinya kehidupan bangsa Israel karena mereka menukarkan kesetiaan Tuhan mereka dengan penyembahan kepada ilah-ilah palsu.

Keberdosaan bangsa Israel bermula ketika mereka merasa mampu dan tidak perlu bergantung pada Tuhan. Mereka menjadikan dirinya penentu dan Allah menjadi opsi terakhir ketika segala sesuatu sudah di luar kendali mereka. Allah yang seharusnya berkuasa penuh atas hidup mereka menjadi Allah yang berkuasa secara lokal saja. Dan di dalam keberdosaan mereka, mereka justru lebih rela mendedikasikan diri pada apa yang mereka takuti di saat itu, yakni bangsa Asyur dan Mesir.

Kita sebagai mahasiswa Kristen juga tidak terlepas dari pergumulan yang sama seperti bangsa Israel. Kita sering kali sulit untuk mengikut Kristus karena sejujurnya kita masih memiliki “Asyur dan Mesir” dalam hidup kita. Kita mendedikasikan hidup kepada apa yang ditakuti pada zaman ini. Mengapa kita memilih untuk kuliah? Apa alasan kita memilih jurusan yang satu dibanding yang lain? Apakah karena sungguh-sungguh panggilan Tuhan atau supaya masa depan kita lebih terjamin? Keberdosaan di zaman ini membuat kita rela menundukkan diri, waktu, dan seluruh tenaga kita untuk mengejar apa yang dikejar dunia ini yang pada ujungnya adalah untuk uang dan kenyamanan diri. Apa yang seharusnya menjadi dasar keputusan kita?

Orang Kristen tidak dipanggil untuk hidup sama seperti orang dunia, menuruti keinginan diri dan mengejar apa yang dunia kejar. Orang Kristen juga tidak dipanggil untuk sebatas masuk surga. Tetapi orang Kristen dipanggil untuk hidup sama seperti Kristus hingga ke dalam setiap detail hidup dan untuk dipakai menjadi alat di tangan Tuhan menyatakan kehendak Allah. Jikalau kita mengatakan Allah harus menguasai segala sesuatu dan tidak boleh ada “Asyur dan Mesir” dalam hidup kita, maukah kita melepaskan “Asyur dan Mesir” yang ada dalam hidup kita dan mendedikasikan hidup kita hanya kepada Tuhan saja? Hanya Tuhan saja Penolong kita sejati. Kiranya Tuhan memampukan kita.

Refleksi oleh: Hanshen Jordan