A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Expository Preaching, 22 September 2016

Perikop Alkitab: Hosea 11:1-12
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Sebagai istri dari Nabi Hosea, Gomer sangat tidak setia. Gomer mengkhianati relasi suami-istri dengan Hosea, dengan mencari kekasih yang lain. Gomer menyangkali segala yang ada padanya sebagai wujud pemeliharaan Hosea. Gomer memilih menggantikan sukacita sebagai istri Hosea dengan sukacita bersama kekasihnya yang lain. Gomer mengkhianati anugerah terbesar yang dapat diterima seorang pelacur, yakni dipilih untuk mendapatkan identitas yang baru, menjadi istri dari Hosea, Nabi Tuhan. Kita tentu setuju bahwa yang dilakukan Gomer sangat keterlaluan dan bodoh. Namun Alkitab menyatakan bahwa relasi antara Hosea dan Gomer menggambarkan relasi antara Allah dan umat-Nya. Relasi Hosea dan Gomer menggambarkan relasi Allah dengan kita. Allah telah memilih kita menjadi umat-Nya yang kudus. Sebagai umat Tuhan, kita sangat tidak setia. Gereja digambarkan sebagai umat yang ditebus dari dosa (dari kematian dan murka Allah yang kekal) untuk hidup sebagai mempelai Kristus yang kudus. Namun kita terus tertarik pada dosa-dosa lama, terus mencintai kekasih lama kita. Kita mengkhianati kekudusan relasi dengan Allah. Kita merasa hidup kita hingga detik ini bukan semata karena pemeliharaan Allah. Kita merasa lebih bersyukur ketika mendapatkan hal-hal lain, yang bukan pemberian khusus Allah hanya kepada umat-Nya. Kita menyampahkan anugerah terbesar yang dapat diterima oleh seorang yang pernah hidup terbelenggu dalam kematian. Kita sudah dibebaskan dari segala jalan keberdosaan yang membawa kepada kematian kekal. Allah membebaskan kita dengan mati menggantikan hukuman kematian yang selayaknya menjadi upah kita. Ia sendiri datang dalam sejarah untuk memberikan kepada kita identitas yang baru dalam kebangkitan-Nya yang mengalahkan kuasa dosa. Kita dipilih-Nya untuk menjadi “umat Allah”. Sebagai umat dari Allah Pencipta dan Pemelihara, Allah yang baik dan setia pada perjanjian-Nya, bagaimana respons kita? Akankah kita seperti Gomer yang keterlaluan dan bodoh? Perlukah kita menanti murka Allah (demi pertobatan kita), sebagai wujud kesetiaan Allah terhadap perjanjian-Nya dengan kita? Bukankah lebih baik kita menantikan Allah menyatakan keindahan Diri-Nya, sebagai wujud kesetiaan Allah terhadap perjanjian-Nya dengan kita? Allah selalu setia. Marilah kita juga setia mengasihi Allah, terus mengucap syukur atas anugerah termanis yang telah Ia berikan, menjadi umat tebusan-Nya.

Refleksi oleh: Eunice Limantara