A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Expository Preaching, 15 September 2016

Perikop Alkitab: Hosea 10:1-8
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Relasi antara Hosea dan Gomer menggambarkan relasi antara Allah dan umat-Nya. Gomer memang menyandang status sebagai istri nabi, namun Gomer terus mencari roti, air minum, bulu domba, kain lenan, dan minyak (hal-hal yang memberikan rasa aman dan sukacita) dari kekasih-kekasihnya yang lain. Kita pun sedang berlaku seperti ini. Kita menyandang status sebagai umat Allah – dan status ini diberikan oleh Allah – tetapi kita menganggap hal ini sebagai sampah. Allahlah yang telah memelihara kita dengan segala berkat-Nya, tetapi kita terus-menerus berpikir bahwa semua yang kita miliki adalah hasil usaha kita sendiri, pemberian kekasih-kekasih kita. Semakin banyak berkat yang kita terima, semakin kita mahir memakai berkat dari Allah untuk melawan Allah dan mau menjadi allah! Kita hanya peduli dengan berkat-berkat-Nya yang kelihatan, dan tidak memedulikan Allah yang tidak kelihatan. Celakanya, kita berpikir Allah pun demikian! Kita pikir Allah hanya memerhatikan apa yang kelihatan dari kita, dan bukan yang tidak kelihatan. Sering kali hal-hal kelihatan yang kita kerjakan hanya merupakan tindakan menipu Tuhan. Kita merasa sedang melayani Allah, padahal kita sedang melayani eksistensi diri.

Berada di tengah-tengah gerakan (Reformed Injili) ini, kita diberikan berkat yang sangat berlimpah untuk bisa mengenal dan melayani Allah. Kita bisa mengikuti persekutuan, pembinaan, seminar, bahkan ikut melayani dalam KKR Regional. Tetapi ironinya adalah alasan kita mengikuti semua ini bukan bertujuan untuk makin mengenal Allah dan berelasi dengan-Nya tetapi untuk akhirnya merasa bangga karena mampu menjelaskan doktrin-doktrin yang rumit atau memamerkan kita telah ikut pelayanan ini-itu. Kita seolah menunjukkan taat melakukan firman Tuhan, hanya demi dinilai oleh orang lain bahwa kita adalah anak Tuhan yang rajin mendengarkan firman Tuhan dan pelayanan. Kita menginjili dan berapologetika bukan demi menyatakan kasih Allah kepada orang tersebut, tetapi demi menyatakan kehebatan kita. Kita sering kali bukan sedang menyatakan Allah, tetapi sedang menyatakan diri.

Maka, pertanyaannya adalah, kita sedang membangun iman kepada siapa – kepada diri atau kepada Tuhan? Kita sedang melayani siapa – melayani diri atau melayani Tuhan? Siapa fokus hidup kita dalam segala sesuatu yang kita kerjakan – diri atau Tuhan? Biarlah masing-masing dari kita terus rendah hati meminta Tuhan untuk menyelidiki hati kita, apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Dia, dan mengembalikan segala kemuliaan hanya demi nama-Nya?

Refleksi oleh: Widya Sheena