A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Expository Preaching, 8 September 2016

Perikop Alkitab: Ephesians 4:1-13
Pengkhotbah: dr. Diana Samara

Berbicara tentang kemajuan, semua dari kita pasti ingin maju. Ada satu prinsip yang perlu kita sadari tentang hal ini yaitu tidak ada dari kita yang dapat maju sendirian. Dari kecil kita dapat maju karena mendapat didikan dari orang tua kita, lalu beranjak dewasa mendapat pengajaran dari guru, teman di sekitar kita, dan lingkungan. Namun, saat ada ajaran yang bertentangan, siapakah yang menjadi otoritas di antara semua otoritas tersebut? Kita mau maju mengikuti siapa?

Sebagai orang Kristen kita akan mengatakan, “Ikut Tuhan dong”. Tapi saat kita mendengarkan firman Tuhan dari hamba Tuhan saja, banyak dari kita yang mendengar dengan “kritis”. Kita sadar betul, bahwa orang yang memberitakan firman ini bukan orang yang suci, dia juga memiliki kekurangan. Dengan dasar pemikiran itu, lalu kita memilah-milah mana yang baik untuk kita terima dan lakukan, dan mana yang kita anggap terlalu ekstrem sehingga tidak perlu dilakukan. Ironinya, saat kuliah ketika dosen mengajar, kita menelan semua ajarannya bulat-bulat. Kita tahu bahwa kita tidak bisa maju ke semester berikutnya kalau tidak menerima pengajaran dari dosen tersebut. Mungkin tidak tunduk secara sepenuhnya dalam hidup kita, tetapi kita amini semua perkataan dosen sebagai suatu kebenaran mutlak saat ujian tiba.

Sebenarnya di dalam Alkitab kita juga telah banyak membaca mengenai kisah-kisah orang besar yang betul-betul dipakai Tuhan dalam segala kekurangan yang tidak kalah besarnya. Abraham, dikatakan sebagai bapa orang beriman. Akan tetapi melihat kisah hidupnya, tercatat ia berbohong demi melindungi dirinya sendiri. Daud, sang raja yang diperkenan di hati Tuhan, telah berzinah. Musa, yang mengumumkan 10 Taurat, telah melanggar minimal 1 dari 10 Taurat tersebut, yaitu membunuh. Petrus, rasul dalam Perjanjian Baru yang mengajak jemaat untuk setia pada Kristus dalam penderitaan, tetapi ia sendiri pernah menyangkal Yesus saat Yesus ditangkap. Kalau orang-orang ini hidup pada masa sekarang, kita mungkin tidak akan ikut mereka, mereka sangat bukan hamba Tuhan yang baik.

Demikian juga dengan hidup kita hari ini. Berhadapan dengan berbagai otoritas yang ada, kita seolah-olah berhak menentukan otoritas yang mana yang kita mau ikut. Tapi kalau kita bisa memilih mau ikut otoritas yang mana, bukankah itu berarti kita sedang menempatkan diri kita di atas otoritas itu sendiri? Kita percaya bahwa Allah yang berdaulat telah memimpin kita sampai di tempat kita bersekutu hari ini, dan Ia juga yang memberikan otoritas kepada setiap hamba Tuhan yang ada untuk memimpin kita menjalankan hidup sesuai kehendak-Nya. Otoritas pertama tentu datang dari Allah, dan setiap hamba-Nya yang menerima kuasa dari-Nya tidak boleh bermain-main dengan otoritas yang diberikan.

Mari memiliki sikap hati yang benar, hati yang berani tunduk kepada kebenaran. Hanya orang-orang yang berespons secara benar dalam setiap kesempatan yang ada itulah yang akan maju. Pada ujungnya, semua yang kita kerjakan dalam kehidupan kita sehari-hari tidak lepas dari tujuan untuk meresponi Tuhan sendiri. Apakah yang selama ini menghambat kita untuk taat kepada Tuhan, tunduk kepada otoritas pemimpin yang Tuhan percayakan untuk memimpin dan membimbing hidup kita? Mari bertobat di hadapan Allah.

Refleksi oleh: Thressia Hendrawan