A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Expository Preaching, 18 Agustus 2016

Perikop Alkitab: 1 Corinthians 12:12-31
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Kesatuan dan perbedaan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Kesatuan dan perbedaan bisa berjalan bersamaan yang digambarkan oleh Rasul Paulus sebagai satu tubuh tetapi banyak anggota. Sama seperti anggota-anggota tubuh memiliki fungsinya masing-masing, demikian juga kita orang percaya. Tetapi, sadarkah kita akan hal ini ?

Mungkin kita sudah cukup sering mendengar atau membaca tulisan Paulus mengenai anggota-anggota tubuh yang mempunyai fungsi berbeda-beda tetapi tetap satu tubuh dan tidak dapat berdiri sendiri. Tangan, kaki, telinga, dan mata masing-masing unik, tetapi membutuhkan satu sama lain dan tidak bisa berdiri sendiri. Sangat mudah bagi kita untuk ”meng-iya-kan” dan menyetujui hal ini. Tapi apa benar kita sudah sadar dan menghidupi hal ini? Sering kali kita jatuh pada dua ekstrem: inferioritas dan superioritas. Kita membandingkan diri kita dengan orang lain lalu merasa diri kita tidak ada apa-apanya, diri kita tidak berharga, diri kita tidak seperti orang lain maka saya tidak dibutuhkan. Saya boleh dibuang dari tubuh, kita inferior. Atau sebaliknya kita merasa diri kita lebih hebat dari orang lain, tanpa orang lain pun saya bisa. Saya tidak butuh orang lain, mereka boleh dibuang dari tubuh, kita superior.

Kita tidak sadar, kita menganggap diri kita punya suatu kelayakan atau hak untuk menentukan berharga atau tidaknya diri kita. Kita lupa bahwa kita sudah ditebus oleh Kristus yang artinya kita berharga di mata-Nya. Atau kita lupa kita dipilih hanya karena belas kasihan-Nya saja dan bukan karena kita. Orang yang inferior mengganggu tubuh yang sedang bergerak menjalankan kehendak Allah dan orang yang superior merasa dapat berjalan tanpa anggota lain. Baik inferior atau superior kedua-duanya sama-sama melawan Allah. Perbedaan tiap-tiap anggota tubuh bukan untuk diperbandingkan. Dengan kata lain, orang lain, manusia lain bukan standar untuk menilai diri kita. Kita harus sadar siapakah diri kita di hadapan Allah? Apa fungsi kita dalam tubuh Kristus?

Mari sekali lagi kita kembali kepada Allah, bukan menjadi inferior atau superior dengan melihat manusia lain, tetapi sadar akan fungsi diri kita, mengembangkan segala talenta yang Allah berikan bagi kemuliaan-Nya sambil juga memperhatikan sesama kita, sebagai satu tubuh yang bergerak bersama-sama menjalankan kehendak Allah.

Refleksi oleh: Ben Hanan