A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Expository Preaching, 25 Agustus 2016

Perikop Alkitab: Hosea 5:15-7:2
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Tuhan memelihara umat-Nya dengan merancangkan jalan supaya Israel bertobat. Dosa yang dilakukan Israel digambarkan dalam relasi Hosea dan Gomer, di mana umat Allah digambarkan sebagai Gomer, pelacur yang dijadikan istri oleh nabi Hosea. Gomer seharusnya tahu akan identitas dirinya sebagai istri seorang nabi Tuhan dan tidak melacur lagi dengan kekasih-kekasihnya yang lain, namun Gomer tetap tidak puas dan kembali mencari kekasih lain.

Manusia diciptakan Tuhan seharusnya sadar akan identitas dirinya untuk hidup bagi Tuhan. Kenyataannya seluruh fokus hidup kita lebih mirip dengan Gomer yang terus-menerus mencari “kekasih” yang lain. “Kekasih” kita bisa berupa pengakuan dari orang lain, nilai yang bagus, kedudukan di masyarakat, kehidupan yang mapan, kesenangan kita, atau kehidupan yang tidak diganggu apa pun. Kita merasa lebih aman dan nyaman dalam topangan “kekasih” kita, bukan Allah! Semakin lama, kita semakin bersukacita dengan “kekasih” kita dan merasa sanggup hidup tanpa bergantung dengan Allah! Kita hanya perlu “kekasih” kita.

Tuhan begitu baiknya, bahkan ketika kita masih bersama dengan “kekasih” lain itu, Tuhan menunggu pertobatan kita. Pertobatan kita seharusnya seperti yang digambarkan dalam istilah di PB, “metanoia” yang berarti berbalik arah secara total dan meninggalkan “kekasih” kita. Jangan bertobat jika hanya sekadar menambah kedekatan dengan Tuhan sambil melacur dengan “kekasih” lain. Tuhan menuntut pertobatan yang tidak hanya sekadar yang kelihatan tetapi juga menuntut menghidupi relasi intim dengan-Nya.

Sadarkah dan ingatkah kita kapan saat pertama kita bertobat di hadapan Tuhan? Saat di mana pertama kalinya kita sadar kalau diri kita adalah manusia berdosa yang dipanggil pulang menjadi umat Allah melalui penebusan Kristus di atas kayu salib? Saat ketika manusia yang paling hina dan rusak dapat kembali berelasi dengan Allah yang Mahasuci? Adakah di dalam hati kita kerinduan yang seperti demikian pada awal kita bertobat? Apakah kita masih bersukacita ketika Tuhan, yang membentuk kita segambar dan serupa-Nya, memanggil kita menjadi umat-Nya dan memelihara kita?

Biar kiranya pelajaran yang dapat kita ambil dari Gomer yang terus melacur pada “kekasih” lain, tidak kita ulangi kembali dengan melacurkan diri pada “kekasih” lain. Marilah kita pulang ke hadapan Tuhan dan merindukan Tuhan jauh melampaui yang lain.

Refleksi oleh: Melinda