A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Expository Preaching, 11 Agustus 2016

Perikop Alkitab: Hosea 2:1-22
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Dosa bukan hanya bicara soal pelanggaran hukum oleh manusia terhadap perintah Allah. Tetapi dosa juga berbicara soal pengkhianatan relasi yang dilakukan umat Allah terhadap Allah sendiri. Hal inilah yang Allah ajarkan melalui kitab Hosea, di mana umat Allah digambarkan sebagai Gomer, si pelacur yang diperistri oleh nabi Hosea. Dia yang harusnya setia sebagai seorang istri dan menghargai suaminya yang dengan rela mengambilnya dari dunia pelacuran, malah mengkhianati pernikahannya dengan melacur kembali, mencari kepuasan nafsunya di luar sana.

Kita pun sama seperti Gomer, tidak pernah menghargai relasi dengan Allah dan terus pergi mencari kesenangan kita sendiri. Kita anggap relasi dengan Allah adalah beban yang menghalangi kita untuk menikmati hidup. Relasi dengan Allah harusnya menjadi hal yang kita syukuri dan hargai, mengasihi Allah harusnya menjadi sukacita dalam hidup kita. Seperti mengasihi seseorang yang dengannya kita bisa jatuh cinta setiap hari tanpa diminta, mengingininya setiap waktu, merindukan dia saat dia jauh, dan dengan sukarela berbincang dengannya tanpa peduli berapa lama waktu yang terpakai. Kita mungkin merasa aman karena sebagai orang Kristen, kita sudah pergi ke gereja setiap minggu, ikut persekutuan, dan bahkan mempunyai jam terbang pelayanan yang tinggi, namun jika kita tidak memelihara relasi kita dengan Allah, semuanya ini tidak ada gunanya. Saat harus menyampaikan firman, seberapa banyak dari kita yang lebih dahulu merefleksikan firman itu untuk diri sendiri? Berapa banyak dari kita yang berdoa ketika kita ada di dalam suatu pelayanan? Apa yang membuat kita gentar ketika Allah memercayakan pelayanan di depan mata kita, keterbatasan kitakah atau kegentaran karena mengerti bahwa kita sedang melayani Allah Pencipta kita? Sebab tidak mungkin kita mengatakan bahwa kita mengasihi Dia tanpa adanya relasi, tanpa kita mengenal isi hati-Nya.

Saudaraku yang terkasih dalam Yesus Kristus, kita tidak sedang menghidupi ritual keagamaan. Allah menebus kita dari dosa dan mengizinkan kita untuk kembali berelasi dengan Dia dan Dia mau supaya kita dapat menikmati relasi itu. Bukankah menjadi kepunyaan Allah kembali adalah anugerah tak terhingga untuk kita yang seharusnya ada di neraka? Dia yang memuaskan kehausan kita akan kehidupan dengan firman-Nya, mengapa kita masih tidak juga puas? Kiranya kita boleh menikmati Allah dan berelasi dengan Dia sekarang dan selamanya. Amin.

Refleksi oleh: Kelly Khesya