A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Expository Preaching, 28 Juli 2016

Perikop Alkitab: Hosea 1:1-12
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Israel, umat yang dikasihi Allah, melupakan Allah mereka dan ‘melacur’ dengan ilah-ilah lain. Sekalipun mereka melupakan Allah mereka, tetapi Allah tidak melupakan mereka. Allah mengingat mereka dalam murka-Nya untuk membinasakan mereka, dengan memperingatkan bangsa Israel melalui membangkitkan nabi Hosea untuk menyatakan dosa mereka dengan cara yang sulit kita bayangkan: menyuruh Hosea untuk menikahi Gomer, pelacur kelas kakap pada zaman itu. Seorang nabi yang suci menikah dengan pelacur yang notabene adalah pendosa besar? Yang bener aja! Tapi, inilah cara kerja Tuhan untuk menyatakan kebobrokan umat-Nya: nabi Hosea menggambarkan kesetiaan Allah kepada umat-Nya, tetapi Gomer si pelacur menjadi teguran bagi Israel yang melacur dengan berhala dan ilah lain.

Kisah nabi Hosea bukanlah sekadar ‘kisah sinetron’ zaman dahulu yang seru untuk didengar, tetapi ini adalah kisah Alkitab yang tetap relevan hingga zaman kita sekarang ini. Bukankah kita ini ibarat Gomer yang sering melacur – walau objek lacurnya dalam bentuk yang berbeda? Kita mengaku percaya kepada Allah dan mengasihi Dia, tetapi mengapa kita masih mati-matian mengumpulkan pundi-pundi kekayaan kita demi masa depan yang lebih lancar, ataupun menghabiskan waktu dan tenaga untuk meraih gelar-gelar akademis kita agar tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain? Dengan itu semua, bukankah sama seperti kita mengakui bahwa sebenarnya kita tidak percaya akan kekuasaan Tuhan dalam seluruh aspek hidup kita? Apakah dengan kekayaan, kepintaran, gelar, kekusaan, dan ilah lain itu bisa menjamin masa depan kita? Jikalau demikian, kita pun tidak ada bedanya dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan – dan celakanya malah kita lebih parah dari mereka!

Kita sebagai umat-Nya, sering kali gagal melihat Allah kita sebagai Allah yang baik, yang menguasai seluruh hidup kita. Manusia lupa, bahwa masa depan ada dalam tangan Tuhan dan seolah-olah kita ingin ‘mengambil alih’ dari-Nya. Kita lupa, bahwa kita ini adalah manusia ciptaan-Nya yang terbatas dan Dia adalah Tuhan dan Pencipta kita. Kita bisa melihat teladan lain dalam raja Daud, orang yang berkenan di hati Allah. Ketika ia melakukan kesalahan dalam mengadakan sensus bangsa Israel di saat Allah tidak memerintahkannya, Allah pun hendak menghukum bangsa Israel tetapi Daud memohon kepada Allah agar dia saja yang dihukum dan ia berucap lebih baik dihukum dalam tangan Tuhan karena besar kasih sayang-Nya, dibandingkan jatuh ke dalam tangan manusia. Daud dalam seluruh kemuliaannya sebagai raja Israel, ketika jatuh dalam dosa tetap memosisikan dirinya dengan benar yaitu sebagai orang berdosa dan memandang Allah sebagai Allah yang baik.

Berapa lama lagi kita masih ingin ‘melacur’ dalam anugerah dan kesetiaan Allah? Jikalau kita diberikan kesempatan boleh sadar akan keberdosaan kita, kiranya kita bertobat dan kembali kepada-Nya. Sola gratia.

“Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.” - 2 Timotius 2:13.

Refleksi oleh: Monica Elim