A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Expository Preaching, 14 Juli 2016

Perikop Alkitab: Obadiah 1:1-21
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Kitab Obaja merupakan kitab yang menubuatkan kehancuran Edom. Bangsa Edom merupakan kaum keturunan Esau yang turun temurun menaruh dendam kepada kaum keturunan Yakub. Edom yang hatinya tetap jahat selalu berusaha mencari kesempatan untuk menghancurkan umat Tuhan dan bahkan bersukacita ketika Yerusalem dihancurkan (Mzm. 137). Akan tetapi Allah tidak membiarkan Edom terus bersukacita melainkan Allah menyatakan bahwa Edom akan dihancurkan.

Umat Tuhan, Gereja-Nya, akan terus dipelihara Tuhan di sepanjang sejarah dan barang siapa yang menyentuh umat Tuhan akan dihancurkan Tuhan pada akhirnya. Ketika menyadari fakta ini, kita sebagai Gereja Tuhan diingatkan bahwa Gereja Tuhan di sepanjang masa mendapat ancaman dari dunia yang tidak pernah netral terhadap Gereja. Kenaifan keberdosaan kita membuat kita berpikir bahwa dunia ini netral dan kita akan hidup “baik-baik saja” di tengah dunia ini dan sekaligus tetap dapat menjadi Kristen yang “taat”. Kita menipu diri dengan berpikir bahwa tantangan dan perlawanan terhadap Gereja Tuhan terlihat hanya dalam bentuk organisasi-organisasi radikal seperti ISIS yang ingin menghancurkan Gereja Tuhan melalui penganiayaan fisik.

Semangat sekularisme di zaman ini justru mempunyai dampak yang jauh lebih dalam dalam menghancurkan Gereja karena semangat sekularisme ini begitu dekat dan halus bentuknya dalam kehidupan keseharian kita. Salah satu yang berdampak jelas adalah aplikasi iman. Iman hanya menjadi bagian yang berada dalam ranah privat dan tidak ada urusannya dengan publik sehingga ketika diperhadapkan dalam ranah publik kita akan terdorong untuk “menyesuaikan” iman kita dengan publik agar diri saya diterima dan terus dapat hidup dengan “baik” di tengah dunia ini. Kita lupa bahwa dunia ini tidak saja mengharapkan kehancuran Gereja Tuhan melainkan juga secara aktif mengusahakan kehancuran Gereja Tuhan. Ironinya adalah kita tidak peduli nama Tuhan diabaikan bahkan direndahkan sejauh kehidupan kita terasa “baik-baik saja”. Namun Allah yang sakit hati tidak membiarkan nama-Nya dihina dan dipermainkan bahkan ketika kita gagal menghargai betapa bernilainya nama Allah dan keselamatan yang dianugrahkan kepada kita.

Nama-Nya terlalu berharga, terlalu mulia, dan terlalu kudus untuk dibiarkan begitu saja. Sadarkah kita betapa berharga-Nya nama Tuhan? Masihkah kita ingat bahwa hidup kita telah ditebus dari kesia-siaan dengan darah yang mahal; darah Anak Tunggal Bapa? Kiranya hidup kita boleh terus menerus dipertumbuhkan menjadi hidup yang menyatakan Tuhan dan Juruselamat kita yang hidup, Yesus Kristus.

Refleksi oleh: Kezia Ratih Runtu