A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Expository Preaching, 15 Desember 2016

Perikop Alkitab: Ephesians 4:14
Pengkhotbah: Diana Samara

Berbicara mengenai anak atau anak-anak, ada dua hal di Alkitab yang memakai istilah ini: Sifat seperti anak-anak (childlike) yang berserah total dan taat total pada orang tuanya, dan sifat kekanak-kanakan (childish).

Yang dikatakan anak-anak dalam Efesus 4:14 ini adalah pemakaian yang kedua, yaitu kekanak-kanakan atau tidak dewasa dalam kerohaniannya. Orang yang tidak dewasa ditandakan dengan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran atau dengan kata lain tidak punya pendirian dan tidak stabil. Kedua, orang yang tidak dewasa adalah orang yang tidak sadar akan bahaya dan tidak mengindahkan teguran. Terakhir, orang yang tidak dewasa adalah orang yang tidak akan bersandar pada Tuhan. Sedangkan orang yang dewasa rohani adalah orang yang stabil dan tahan terhadap tekanan dan penderitaan, serta hidupnya semakin belajar bergantung kepada Tuhan.

Bagaimana dengan pertumbuhan rohani pribadi kita masing-masing? Sering kali kita adalah orang Kristen yang bersifat kekanak-kanakan seperti yang dikatakan rasul Paulus dalam bagian firman Tuhan ini. Dalam kehidupan kita sehari-hari, apa yang sebenarnya kita kejar? Apakah betul yang kita kerjakan dan pelayanan kita adalah demi membangun tubuh Kristus? Atau jangan-jangan kita berpikir bahwa apa yang kita kerjakan dalam hidup ini adalah benar, sekalipun pada kenyataannya justru adalah hal yang salah. Kita tidak pernah membangun tubuh Kristus, tidak peduli juga dengan pekerjaan Tuhan, yang sebetulnya kita pedulikan hanya diri kita saja dan apa yang kita anggap benar serta yang mau kita kerjakan. Dan lebih gawatnya lagi saat teguran yang keras dari Tuhan datang pada kita, sama seperti anak kecil yang egois, justru melawan dan memarahi orang tuanya. Selain itu kita juga tersinggung dengan teguran itu. Teguran seharusnya kita responi dengan berubah dan bertobat, tetapi kita malah semakin mengeraskan hati karena merasa kita benar, apa yang kita lakukan dan perjuangkan bukan sesuatu yang salah.

Mari kita merefleksikan, selama ini, saat kita berjuang demi yang kita namakan “kebenaran”, setiap pelayanan yang kita lakukan, hidup suci, dan hidup memuliakan nama Tuhan, benarkah kita melakukan semua itu dengan bersandar pada Tuhan? Bukankah kita melakukannya dengan berbagai macam rencana dan strategi yang menurut kita baik, dengan pengalaman dan kemampuan kita tanpa bersandar pada Tuhan, tanpa bertanya apa kehendak-Nya? Kita tidak mungkin dapat menjadi dewasa tanpa memiliki theologi dan doktrin yang benar, serta relasi secara pribadi dengan Allah. Dengan kedua hal ini kita baru dapat menjadi stabil, dan setiap tekanan yang datang pada kita justru akan membuat kita semakin berpegang pada Allah dan bukan lari demi kenikmatan pribadi.

Dengan kedua hal ini kita baru dapat bertumbuh menjadi dewasa sebagai satu tubuh, bukan sekadar pada individu itu sendiri. Tiap anggota pasti akan bertumbuh jika satu tubuh bertumbuh, tidak bisa dibalik. Karena itu, berkata bahwa kita bertumbuh, sekalipun apa yang kita kerjakan tidak selaras dan tidak pernah membangun tubuh Kristus, adalah omong kosong. Jika setelah membaca perenungan ini kita tidak merasa ada yang salah, mungkin kita memang kekanak-kanakan.

Refleksi oleh: Ben Hanan