A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Expository Preaching, 1 Desember 2016

Perikop Alkitab: Zephaniah 1:1-18
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Dalam kitab Zefanya, hari Tuhan sering digambarkan dengan hari penghakiman namun paradoks sekali pada hari tersebut juga sebagai hari perjamuan. Ketika Tuhan datang kedua kali terdapat penghakiman sekaligus perjamuan.

Hari Tuhan dalam konteks penghukuman akan tiba sebagai pernyataan ketidakbenaran sekaligus melepaskan manusia dari penyesatan dirinya akan hidupnya yang tidak pernah melihat Tuhan. Dalam hati manusia melihat Tuhan tidak berbuat baik dan tidak berbuat jahat! (ay. 12) menggambarkan generasi setiap zaman atas ketawaran hati manusia yang sudah diberkati Tuhan begitu banyak tetapi manusia sulit mempunyai hati ke Tuhan dan bergumul di hadapan Tuhan ketika hidup berjalan “seakan” lancar, mudah, dan apa adanya.

Israel gagal; saat masa kedamaian, sulit untuk mencari Tuhan, tetapi saat terjepit, terus mencari Tuhan. Ketika Tuhan terus memberkati tetapi Israel tidak sanggup melihat, itulah masa kejatuhan mereka. Hal yang sama terjadi dengan kita karena tidak tahu mencari Tuhan dengan segenap hati segenap hidup kita. Kita hanya mengejar Tuhan ketika kesulitan datang. Seharusnya kita menjadi manusia yang sanggup bergumul di hadapan Tuhan setiap hari dengan segenap hati. Seberapa kita dengan penuh kesadaran menyadari anugerah Tuhan setiap hari, setiap saat, dan setiap kesempatan yang Tuhan berikan dalam hidup kita. Ketika tidak menikmati dan sanggup melihatnya, hukuman Tuhan menanti.

Hari Tuhan dalam konteks perjamuan adanya pelepasan atas perbudakan dosa (ay. 2-6). Pelepasan manusia dari cengkraman keberdosaan secara total ataupun parsial. Tuhan akan membebaskan semua ini. Kebahayaan terbesar adalah ketidaksadaran akan keberdosaan. Perjamuan pelepasan akan membukakan kebutaan dari dosa untuk melihat yang benar. Hal tersebut merupakan sukacita bagi kita, tetapi hari ini kita tidak sanggup melihatnya karena kebutaan akan keberdosaan akan dinyatakan saat hari Tuhan (ay. 7).

Pada hari Tuhan adanya undangan Tuhan untuk menerima penghukuman dan untuk menerima pengudusan undangan. Pengudusan undangan tidak bergantung kepada manusia tetapi kepada Tuhan. Dalam kitab Zefanya banyak kata TUHAN yang artinya Zefanya meneriakkan untuk kembali kepada Tuhan. Tuhan yang satu-satunya mengontrol hidupmu dan kamu tidak boleh berpaling pada berhala. Hidup tunduk secara total di hadapan Allah! Ketika kita tidak menghidupi secara total, kita sedang menumpuk murka Tuhan dalam hidup kita.

Siapa yang akan dihukum oleh Tuhan? Siapa yang akan menjadi undangan Tuhan? Dalam PB, hari Tuhan akan ada pemisahan antara kambing atau domba, lalang atau gandung, Israel atau Babel, serta gereja atau dunia. Dalam hidupmu, perjalanan apa yang sedang kamu gambarkan? Ada dalam hukuman atau perjamuan undangan?

Nyatakan perjamuan Allah dengan menikmati sukacita hidup di hadapan Tuhan di bawah kontrol dan pimpinan Tuhan bukan rencana pikiran kita. Saat ini kita bersama-sama berjalan, namun pada akhirnya akan dipisahkan pada hari Tuhan. Sekali lagi teriakan Zefanya untuk bertobat (Zef. 2:1-3).

Zef 2:1-3 “Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh, sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN. Carilah TUHAN, hai semua orang yaang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN.

Biar kiranya kitab Zefanya boleh menyadarkan dalam perjalanan hidup kita boleh menjadi manusia yang rendah hati dan minta Tuhan memimpin agar kita bisa berjalan sebagaimana seharusnya.

Refleksi oleh: Melinda