A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Expository Preaching, 17 November 2016

Perikop Alkitab: Ephesians 4:1-13
Pengkhotbah: dr. Diana Samara

Semangat hidup yang dimiliki oleh seorang Kristen, bukanlah semangat yang mencari batasan untuk hidup bagi Tuhan. Melainkan, sebuah hidup yang bersifat totalitas yang merupakan buah dari iman dan pengenalan akan Anak Allah. Iman dan pengenalan akan Anak Allah tidak pernah bisa terlepas satu sama lain. Tidak ada orang yang bisa beriman dengan benar tanpa pengenalan yang benar akan Anak Allah. Tidak ada orang yang dapat mengenal Anak Allah dengan benar tanpa iman yang dianugerahkan Roh Allah. Hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara iman dan pengenalan akan Anak Allah ini menghasilkan kehidupan yang memiliki kreativitas dan tenaga yang tidak ada habis-habisnya untuk memikirkan segala kemungkinan dan memperjuangkan segala sesuatu yang ada di dalam hidupnya bagi Tuhan.

Bagaimana dengan hidup kita saat ini? Sungguhkah kita rindu supaya hidup kita dipersembahkan bagi Tuhan seluruhnya? Benar-benar inginkah hidup kita dibakar dan dipersembahkan di atas mezbah sampai habis tak tersisa: seperti Kristus rela menjalankan seluruh proses dan ketaatan yang total datang ke dalam dunia untuk mati di atas kayu salib bagi rencana Bapa di Sorga; seperti pahlawan-pahlawan iman pendahulu kita yang telah menjalankan kehidupan yang menyeluruh bagi Tuhan? Jika tidak, maka sebenarnya seperti kata John Calvin – sangat perlu untuk kita ragukan bahwa diri kita belum memiliki iman dan pengenalan akan Anak Allah. Jika tidak, maka kita juga sangat perlu bertobat, meminta belas kasihan dari Tuhan untuk menggelisahkan diri kita kembali agar kita menyusun dan menjalankan hidup sebagai orang Kristen. Bukan perkara kita bisa atau tidak bisa hidup seluruhnya bagi Tuhan, tetapi permasalahan sebenarnya adalah relakah kita hidup bagi-Nya yang telah rela inkarnasi, mati, dan bangkit untuk menyelamatkan kita?

Refleksi oleh: Henoc