A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Expository Preaching, 3 November 2016

Perikop Alkitab: Joel 2:12-27
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Kita pikir kondisi yang nyaman, keadaan jasmani yang baik sering diidentikkan dengan berkat Tuhan. Begitu juga sebaliknya, ketika semua dalam keadaan buruk, maka sering dikaitkan dengan kutuk Tuhan. Akan tetapi lain yang terjadi pada bangsa Israel yang dikisahkan di dalam kitab Yoel. Sentral dari kitab ini adalah penghakiman Tuhan, namun hal ini tidak disadari oleh bangsa Israel di mana musuh mereka yaitu Asyur sedang melemah, dan kondisi bangsa Israel sedang dalam keadaan baik. Padahal sebenarnya di balik semua fenomena yang baik-baik saja, Tuhan sedang membiarkan semua bangsa Israel berjalan, tergelincir, dan terhilang selamanya.

Saat bangsa Israel begitu berdosa, tidak berarti bahwa betul-betul tidak ada seorang pun yang taat. Ada kelompok kecil yang Tuhan tetap pelihara untuk taat,dan karena itulah masih ada nabi Yoel yang berteriak pada zaman itu. Tetapi pertobatan tidak Allah minta dari hanya satu pribadi saja, melainkan dari seluruh umat Allah. Saat bicara tentang kehendak Tuhan, Ia tidak berbicara pada pribadi masing pribadi, tetapi kepada sekumpulan umat. Begitu pula dengan pertobatan. Maka, bangsa Israel saat itu, walaupun sudah ada satu yang bertobat, namun karena masih ada yang berdosa, keseluruhan umat tetap akan dihukum. Mengapa demikian? Karena Allah bekerja dan menyatakan kehendak-Nya pada umat-Nya berupa komunitas, bukan berdasarkan individu.

Dalam zaman postmodern ini, kita diajarkan untuk menjadi orang yang egois, cuek, dan tidak perduli apa pun dan yang penting diri sendiri. Lalu sebagai orang Kristen, banyak dari kita yang hanya memikirkan bagaimana diri sendiri bisa melayani Tuhan dan tidak memikirkan berdasarkan komunitasnya, yaitu umat Tuhan atau gereja Tuhan.

Sebagai umat Tuhan, kita dipanggil secara kolektif menjalankan panggilan-Nya. Saat mengerjakannya, tidak perlu jabatan, tidak perlu penghargaan, tidak perlu dilihat orang. Yang perlu adalah apakah di hadapan Tuhan kita mengerjakannya dengan iman yang murni? Mari kita membuat hidup tidak pernah berhenti untuk mengerjakan kehendak Tuhan dan bukan kehendak diri, walaupun hati yang masih berdosa ini terus berteriak, kapan jatah untuk saya, tetapi kita harus terus berjuang mengalahkan keegoisan kita dan menaklukkan diri kepada panggilan-Nya. Ingatlah bahwa Tuhan bisa menghancurkan siapa saja dan kapan saja, Dia adalah Tuhan yang berdaulat, Dialah Allah. Mari bertobat di hadapan Tuhan!

Refleksi oleh: Thressia Hendrawan