A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Expository Preaching, 27 Oktober 2016

Perikop Alkitab: Joel 1:1-20
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Sering kali kita berpikir mulai dari yang kelihatan untuk menilai hal yang tidak kelihatan. Sebagai manusia yang jatuh cinta, kita melihat setiap perilaku pasangan kita, setiap hal yang ia berikan adalah tanda cinta dia kepada kita, dan sebagainya. Hal ini tidak sepenuhnya salah karena kita tidak bisa bilang pasangan kita mencintai kita bila tidak ada hal yang mau ia lakukan terhadap kita, tetapi jika hal ini menjadi pola berpikir kita, menilai ataupun mengonfirmasi hal yang tidak kelihatan dengan yang kelihatan, maka itu adalah suatu kesalahan yang fatal.

Hal yang sama terjadi kepada bangsa Israel di dalam perikop yang kita baca. Pada zaman nabi Yoel, sekitar tahun 780 SM, bangsa Israel masuk kepada suatu zaman “kemakmuran”. Di dalam kondisi zaman yang begitu nyaman, maka bangsa Israel terbuai dan merasa diri baik-baik saja. Kita pun sering demikian.

Kitab Yoel mengajarkan kepada kita, bahwa kita tidak bisa menilai Allah dari kondisi yang kita alami. Kita tetap bisa mendapatkan berkat, padahal kita sedang dimurkai oleh Allah. Kita tidak boleh merasa tenang, jikalau kita tetap bisa melakukan kegiatan ibadah padahal ibadah kita tidak diperkenan Tuhan. Dan kita tidak boleh merasa baik-baik saja bila kita merasa damai di hadapan Tuhan, karena perasaan kita tidak mendasari perkenanan dari Tuhan. Tetapi kita benar di hadapan Tuhan jikalau YHWH adalah Tuhan kita.

Perikop ini kembali membuat kita berpikir, apakah selama ini kita sudah aktif di dalam kegiatan gerejawi tetapi kita sebenarnya tidak memuliakan Tuhan? Apakah kita sudah rajin menggali Firman Tuhan tetapi sebenarnya hal itu tidak membawa kita mengenal Tuhan yang benar? Apakah kita sudah merasakan hubungan yang intim dengan Tuhan, tetapi sebenarnya Tuhan sedang tidak memiliki relasi dengan kita?

Di dalam Alkitab dan di dalam sejarah, Kristus menjalankan hal ini. Dia tidak mendasarkan pelayanan-Nya dengan apa yang dilihat mata. Dia mengajar selama 3,5 tahun dan tidak menghasilkan sekolah theologi ataupun kekuatan kubu politik di Israel. Dia ditolak oleh bangsa-Nya. Murid yang mengikuti Dia mayoritas hanyalah nelayan. Bahkan Dia dikhianati oleh murid-Nya sendiri dan disiksa sampai mati di kayu salib. Di dalam pandangan manusia, bukankah Dia kalah? Bukankah Dia gagal? Bukankah Dia orang yang paling patut dikasihani di seluruh dunia? Tetapi Kristus mendasarkan pelayanan-Nya pada apa yang dilihat oleh Bapa di surga. Dan hanya kepada Kristuslah, Bapa mengucapkan “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Mari kita merenungkannya, apakah kita benar-benar sudah menjadi anak-anak Tuhan? Apakah kita sudah mengenal Tuhan yang benar? Ataukah kita sudah melakukan hal yang berkenan di hadapan Tuhan? Jikalau tidak, mari kita sekali lagi mengubah pola pikir kita, mau menjadi anak-anak Tuhan yang mengejar apa yang menjadi kehendak-Nya, di dalam situasi apa pun berani berdiri tegak bagi Dia.

Refleksi oleh: Alexander Herman William Ruhukail