A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Refleksi Khotbah FIRES

Expository Preaching, 20 Oktober 2016

Perikop Alkitab: Hosea 14:2-10
Pengkhotbah: Ev. Edward Oei

Bangsa Israel adalah bangsa yang dikasihi Tuhan sebegitu rupanya. Ketika bangsa ini telah melakukan pengkhianatan terhadap Tuhan dengan “melacur” pada kekasih lain “Asyur dan Mesir”, mengganggap sepi pemeliharaan Tuhan, dan bersungut-sungut sebagai umat Tuhan, namun Tuhan masih berbelas kasih kepada bangsa yang tegar tengkuk ini. Dalam perikop ini, kita dapat melihat Tuhan memanggil bangsa Israel untuk bertobat!

Kata “bertobatlah” (Hos. 14:2) menggunakan kata asli yaitu “schub” yang berarti pulang atau berbalik. Bertobat adalah pulang kepada asal-usul yang benar, yaitu kepada Tuhan. Pulang dengan sungguh-sungguh mau melepaskan segala yang dimiliki yang salah dan kembali ke asal yang benar. Kita kembali kepada keberadaan kita yang sesungguhnya yaitu kepada Tuhan Allah. Namun, manusia berdosa sering kali tidak ingin kembali melainkan tetap dalam keberadaan yang berdosa.

Ini adalah kebodohan manusia yang tidak disadarinya ke mana ia harus pulang namun menganggap dirinya tahu jalan dan arah ke mana ia pulang.. Sering kali manusia membenarkan diri sudah jatuh di dalam dosa sehingga merasa tidak perlu bertobat kembali. Alkitab dengan jelas meneriakkan “Bertobatlah” kembali kepada asal-usul, kembali menjadi manusia di hadapan Tuhan Allah.

Pertobatan bukanlah suatu hal yang instan! Ketika kita minta ampun di hadapan Tuhan merasa sudah diampuni, lalu kita merasa bebas namun kita tidak berbuat apa-apa untuk berbalik pulang ke asal. Itu bukanlah pertobatan! Yang benar adalah di dalam pertobatan ada pergerakan, ketika bertobat harus ada perjalanan pulang, sikap perubahan, menyesali penyesalan akan kesalahan. Ada jarak kembali ke asal-usul yang harus disadari. Ada proses pembelokan arah yang harus dikerjakan. Harus berubah dan kembali ke jalan yang benar!

Bangsa Israel seharusnya bertobat total sepenuhnya dengan tidak membanggakan dan “melacurkan” diri kepada kekasih lain “Asyur dan Mesir” tetapi hanya kepada Tuhan. Itulah pertobatan sesungguhnya di saat Israel berharap dan bergantung kepada Tuhan. Bagaimana seluruh hidup harusnya melihat dan berharap kepada Tuhan? Apa yang kita telah kerjakan dalam hidup ini?

Kuliah bukanlah asuransi masa depan. Kerja tidak menjamin hidup kita enak dan puas dengan harta yang kita kumpulkan. Pelayanan pun bukan suatu jaminan masuk surga. Tidak ada hal yang bisa membuat kita menggantungkan diri selain bergantung hanya pada Bapa kita yang di sorga. Mari sekali lagi kita belajar bertobat di hadapan Tuhan, belajar segera meresponi teriakan terdalam Tuhan memanggil kita pulang!

Mari sekali lagi dengan penuh kesadaran, minta belas kasihan Tuhan setiap harinya untuk melangkahkan hidup dengan pasti bersama Tuhan. Pertobatan tidak hanya sekadar ucapan di bibir saja, namun adanya perubahan arah pulang kepada Sang Pencipta. Kiranya kitab Hosea ini sekali lagi boleh menelanjangi keberdosaan kita dan tidak membuat kita menjadi semakin tegar tengkuk, namun belajar bersyukur akan anugerah Tuhan yang besar boleh memanggil kita pulang menjadi umat-Nya. Bertobatlah! Mengapa harus binasa?

Refleksi oleh: Melinda