A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Menikmati Allah Melalui Ciptaan-Nya

Poin pertama dari Katekismus Singkat Westminster mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan dan menikmati Allah selama-lamanya. Perihal “Memuliakan Allah” sepertinya sudah sering dibicarakan di dalam berbagai seminar dan buku-buku ternama. Namun bagaimana dengan perihal “menikmati Allah”? Apakah arti dari frasa yang terdengar asing ini? Apakah menikmati Allah itu sama dengan momen kenikmatan ketika kita pergi menonton dan menikmati film di bioskop? Ataukah menikmati Allah adalah seperti momen-momen ketika kita menikmati karya seni atau bahkan menikmati alam ciptaan Tuhan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita mulai dengan keseharian kita yang tampaknya begitu sangat wajar. Sebegitu wajarnya sehingga kita tidak lagi memperhatikannya, dan menganggap kepergiannya sebagai suatu hal yang natural. Isu kewajaran ini mengingatkan saya pada sebuah film mengenai seorang gadis penyulam yang kehilangan penglihatan di masa mudanya. Ketika ia menyadari akan kebutaannya dan ketidakmungkinannya untuk kembali menyulam, dunia seakan runtuh di hadapannya. Singkat cerita, berangkat dari keterpurukannya dan dukungan seorang nenek tua, sang gadis perlahan menata kembali kehidupannya dan mendapatkan semangat untuk menghidupi hidupnya kembali. Di suatu kesempatan, dia mengatakan kepada ayahnya bahwa ketika dia masih melihat dengan mata jasmaninya, hal-hal yang sederhana sering kali tidak lagi dia perhatikan. Berapa tinggi masing-masing anak tangga, berapa banyak anak tangga, dan berapa lebar dari anak tangga satu kepada anak tangga lainnya terlewat begitu saja. Justru di kala dia buta, dia mulai menyadari dan memperhatikan hal-hal yang terlupakan begitu saja saat dia bisa melihat.

Hal yang sama dapat juga kita temukan di dalam hidup kita sehari-hari. Sebagai contoh saja, mari kita melihat lalat. Seekor binatang yang menjijikkan bukan? Memegang pun mungkin kita geli. Ketika berhadapan dengan lalat kita pasti akan mengusirnya atau memukulnya mati. Tapi mari coba kita selidiki struktur lalat. Lalat mempunyai sepasang sayap yang mampu berkepak 500 kali tanpa istirahat barang setitik pun. Sayap yang ukurannya tidak sampai seukuran kuku kita ini mampu bergerak 500 kali tanpa rusak. Teknologi buatan manusia, secanggih apapun itu, tidak akan sanggup melalukan duplikasi yang seelok itu.

Contoh kedua, coba tengok mata lalat. Setiap biji mata lalat mempunyai susunan lensa yang sangat kompleks. Sebagai gambaran sederhana, apabila seekor lalat memperhatikan sekuntum bunga maka akan muncul gambaran kuntum bunga yang penuh pada setiap lensa yang terdapat pada mata lalat; akan terbentuk 8.000 citra sekuntum bunga di dalam indra penglihatan makhluk yang begitu “remeh” ini. Lebih menakjubkan lagi, 8.000 lensa itu sudah ada pada mata lalat sejak dia lahir. Bagaimana mungkin 8.000 lensa bisa berada di dalam mata lalat yang mata kita sendiri pun susah untuk melihatnya – yang berukuran hanya beberapa millimeter saja? Terlebih lagi, seluruh lensa ini tidak pernah gagal untuk menerima cahaya dan tidak pernah gagal untuk memfokuskan cahaya kepada retina. Tidakkah ini menakjubkan? Siapakah designer di balik semua ketakjuban ini? Allah Sang Pencipta.

Contoh berikutnya, mari kita melihat binatang kecil nan cerdik, Bunglon. Bunglon selalu diidentikkan dengan kemampuannya mengubah warna kulit sesuai dengan lingkungan di mana dia berada. Namun kali ini saya hendak mengajak kita melihat keajaiban lain dari si bunglon, matanya. Apa yang ajaib dari mata seekor bunglon? Bunglon memang tidak memiliki 8.000 lensa seperti lalat, tetapi dia memiliki mata yang dapat diputar 360 derajat, dan ia mampu memutar masing-masing matanya ke arah yang berbeda – asinkron. Wow!!! Ini artinya sistim kerja saraf dari kedua bola matanya bekerja secara asinkron?

Dengan kemampuan memutarkan matanya 360 derajat secara asinkron, bunglon dapat memperhatikan keadaan sekitarnya dengan lengkap karena dia dapat melihat dua arah sekaligus. Kelopak mata atas dan bawah mereka dapat bergabung, dengan lubang hanya sebesar jarum bagi pupil untuk melihat. Mereka dapat memutar dan fokus secara terpisah untuk mengamati dua objek yang berbeda secara bersamaan, yang memungkinkan mata mereka bergerak secara independen satu sama lain. Ketika mangsa mereka ada di sekitar mereka, kedua matanya dapat difokuskan ke arah yang sama untuk memberikan penglihatan stereoskopik tajam dan kedalaman persepsi. Bunglon memiliki penglihatan yang sangat baik untuk reptil, membuat mereka dapat melihat serangga kecil dari jarak yang jauh. Sebagai pembanding langsung, pada umumnya manusia hanya bisa melihat ke satu arah saja. Siapakah pembuat di balik semua itu? Tentu saja Dialah Allah Sang Pencipta.

Contoh terakhir, mari kita melihat bagian dari tubuh kita yang sering kali terlupakan, alis mata. Anda pernah melihat (atau mungkin Anda sendiri yang melakukannya) seseorang yang memanjangkan rambutnya sampai melebihi pinggul bahkan kakinya. Hal ini dimungkinkan karena rambut kita memang dapat memanjang hampir tanpa batas. Untuk memendekkan rambut di kepala kita, kita perlu memotongnya. Tapi bagaimana dengan alis mata? Alis, salah satu bentuk rambut yang tidak jauh dari rambut kepala kita, tidak pernah menjadi lebih panjang daripada kelopak mata kita. Bagaimana hal ini mungkin? Siapa, atau apa, yang menahannya? Atau pernahkah kita berpikir mengapa bentuk alis kita seperti itu – menyerupai ulat bulu? Ketika kita mempelajari fungsi alis, maka kita akan tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini. Alis diciptakan Tuhan dengan bentuk seperti bulan sabit dengan lengkungan agak tajam di bagian pelipis untuk melindungi mata dari tetesan keringat, air hujan, atau berbagai macam cairan yang berlebihan yang jatuh dari bagian dahi. Bukan hanya itu, bentuk alis mata dan arah tumbuh rambut pada alis dimaksudkan agar keringat atau air bisa mengalir ke kening dan jatuh ke pipi, atau ke arah pipi melewati puncak hidung. Selain itu alis mata juga berfungsi sebagai penahan berbagai macam kotoran yang bisa memasuki mata. Selain itu, di dalam komunikasi antarmanusia alis mata juga membantu kita mengungkapkan berbagai macam ekspresi, seperti takjub, marah, bingung, atau tidak paham. Siapakah di balik semua keajaiban ini? Sekali lagi, Allah Sang Maha Pencipta, yang juga menciptakan kita.

Anda bisa mencari contoh-contoh yang lain di sekitar Anda, dan silakan menemukan sendiri keajaiban-keajaiban ciptaan yang sehari-hari kita anggap begitu naturalnya sehingga kita tidak lagi melihat keajaiban yang ada. Setelah melihat berbagai contoh tersebut, adakah kita mulai takjub akan Sang Pencipta? Mari kita mulai belajar melihat keberadaan diri kita dan keadaan di sekitar kita bukan hanya sekadar melihat apa yang terlihat secara “naif”, melainkan melihat dengan lebih dekat seluruh keajaiban di balik hal-hal itu.

Sang Pencipta yang menciptakan, mengatur, dan mengontrol semua ciptaanNya. Ingin lebih bisa mengagumi Sang Pencipta kita? Anda bisa mengalaminya. Dengan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dialah yang menjadi Mediator bagi kita yang begitu remeh dan Allah yang begitu menakjubkan. Dialah yang memampukan kita untuk bisa melihat melampaui dari mata kita melihat secara jasmani. Kita akan semakin terkagum-kagum melihat keagungan Sang Pencipta.

Sebagai penutup, pernahkah kita mendengar atau menyanyikan lagu How Great Thou Art? Mari sekarang kita mulai menyanyikannya dengan suatu pemahaman yang baru dan kekaguman yang keluar dari hati kita kepada Sang Pencipta. Mengagumi Dia melalui ciptaan-Nya.

Verse 1:
O Lord my God, when I in awesome wonder,
Consider all the worlds Thy hands have made;
I see the stars, I hear the rolling thunder,
Thy power throughout the universe displayed.

Chorus:
Then sings my soul, my Savior God, to Thee,
How great Thou art! How great Thou art!
Then sings my soul, My Savior God, to Thee,
How great Thou art! How great Thou art!

Verse 2:
When through the woods, and forest glades I wander,
And hear the birds sing sweetly in the trees.
When I look down, from lofty mountain grandeur
And see the brook, and feel the gentle breeze.

Verse 3:
And when I think, that God, His Son not sparing;
Sent Him to die, I scarce can take it in;
That on the cross, my burden gladly bearing,
He bled and died to take away my sin.

Verse 4:
When Christ shall come, with shout of acclamation,
And take me home, what joy shall fill my heart.
Then I shall bow, in humble adoration,
And then proclaim, "My God, how great Thou art!"

dr. Diana Samara

Sumber: