A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Tuhan Dalam Sejarah

Kurang lebih 2000 tahun yang lalu, Yesus Kristus, pribadi kedua Allah Tritunggal, berinkarnasi, turun ke dalam dunia. Peristiwa itu dikenang umat manusia sampai sekarang dan dikenal sebagai hari Natal. Peristiwa Natal itu tercatat sebagai sejarah sampai hari ini. Namun, sebenarnya apakah sejarah itu? Bagaimanakah kita bisa melihat sejarah seperti yang Allah lihat? Karena jika kita gagal melihatnya dengan benar, mungkinkah kita bisa hidup memuliakan dan menikmati Allah dalam hidup kita yang adalah bagian dari sejarah?

Sejarah terjadi di dalam waktu dan waktu sendiri adalah batasan keberadaan kita sebagai yang dicipta, yang dikaruniakan oleh Allah. Waktu boleh ada ketika Allah menetapkannya untuk ada dan mulai dari titik awal inilah kita diperbolehkan untuk mengenal apa itu sebelum, ketika, dan sesudah, yang merupakan komponen penyusun sejarah. Karena Allah menetapkan waktu bersifat tunggal, maka sejarah, yang merupakan turunan dari waktu, juga bersifat tunggal, artinya tidak ada waktu dan sejarah yang lain di dunia lain selain yang kita kenal sekarang ini melalui penyataan Allah di dalam wahyu khusus dan wahyu umum.

Sejarah yang tunggal ini adalah satu sistem yang panjang, dibentuk oleh kejadian-kejadian kecil dan unik yang berkorelasi satu sama lain. Namun, setiap kejadianinipun juga merupakan sejarah dalam batasan tertentu. Kemerdekaan Indonesia, contohnya, merupakan satu hal yang ada dalam dan sekaligus merupakan sejarah. Dan karena tiap kejadian ini adalah unik pada esensinya; dalam artian ketidakmungkinan untuk terulang kembali dengan sama, sejarah memiliki sifat keunikan dan mengandung unsur kesatuan dan keberagaman di dalamnya. Kedua unsur ini (kesatuan dan keberagaman) tidak dapat dipisahkan atau saling menghilangkan.

Karena kesatuan yang menghilangkan keberagaman akan menjadi satu kesatuan yang absurd dan mati. Sejarah dengan sifat demikian tidak mungkin ada karena sejarah yang merupakan turunan waktu harus bersifat dinamis, artinya bergerak. Ketika waktu bergerak, maka kesatuan itu sendiri menjadi beragam. Keberagaman ini, lebih detail, tersusun dari berbagai macam kejadian yang unik di dalam waktu yang membentuk sejarah.

Sedangkan, pada saat yang sama, keberagaman tidak bisa dipisahkan dari kesatuan. Bila sejarah hanya merupakan kumpulan kejadian-kejadian yang berbeda, maka tidak akan ada pengharapan bagi manusia untuk hidup dan belajar. Karena tidak pernah ada satupun memori yang boleh menjadi dasar dari kejadian lain untuk terjadi. Yang artinya hidup manusia adalah hidup dalam “mere coincidence”; yang berarti bahwa tidak ada satu titik awal di mana kita boleh melihat sejarah sebagai suatu hal yang beruntutan. Dan diskusi semacam inipun tidak mungkin terjadi dalam sejarah yang hanya berdiri sebagai kejadian yang beragam.

Oleh karena itu, dua sifat ini harus ada secara bersamaan dalam konsep sejarah. Sejarah harus dilihat secara utuh sebagai satu sistem besar yang ada karena Tuhan mengadakannya; sekaligus juga sebagai kejadian-kejadian yang saling terkait satu sama lain membentuk satu kesatuan sistem yang besar, yang pada satuannya juga tersusun dari dan hadir bersamaan dengan kejadian-kejadian kecil yang lain.

Dapat kita lihat bahwa sejarah pada sifat utamanya berpola one and many, yang diturunkan dari sifat Allah Tritunggal sendiri. Di mana tidak ada satu yang hanya satu secara esensi utama, maupun perbedaan yang tidak menyatu dengan yang lainnya dalam satu kebenaran yang sama. Oleh karena itu, adalah tidak mungkin untuk bisa melihat sejarah secara benar di luar kacamata Penciptanya, yaitu Allah sendiri yang mengekspresikan sifat-Nya dalam ciptaan-Nya. Setiap aspek kehidupan dunia ciptaan sesungguhnya bergantung absolut pada Sang Pencipta.

Ketergantungan ini dijawab dengan kedatangan Kristus ke dalam dunia, di mana Allah mau hadir dalam sejarah; historical Christ telah hadir di dalam sejarah ini. Ia yang menciptakan sejarah rela membatasi Diri untuk menggenapi rencana keselamatan bagi manusia. Yesus dalam sejarah dengan menghidupi hidup seorang manusia, menyatakan kehidupan yang sejati dengan terus mau mengenal akan apa yang Bapa kehendaki, itulah kehidupan dengan sesungguhnya dalam sejarah dan itulah sejarah dengan makna yang sesungguhnya. Ia mampu menghidupi kemanusiaan yang sejati dengan memberikan teladan dalam kesetiaan-Nya menjalankan panggilan Allah sampai akhir; bahkan sampai di atas kayu salib, tempat di mana seluruh penghukuman diberikan secara maksimal, baik secara fisik maupun mental.

Dalam melihat akan Kristus, tidak seharusnya kita melihatnya terpisah-pisah. Kelahiran-Nya, kehidupan-Nya di dunia, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya ke surga, kedatangan-Nya kedua kali, bahkan lebih jauh lagi, sebelum kedatangan-Nya pertama kali, semuanya harus dilihat secara utuh, tetapi juga tidak dapat dicampuradukkan. Tanpa mengerti Kristus adalah Allah Anak yang ada sebelum dunia dijadikan, kita tidak akan dapat mengerti dengan benar kedatangan-Nya kedua kali sebagai Raja di atas segala raja. Pengertian yang utuh ini membawa kita kepada pengertian yang benar akan kehidupan Kristus selama di dunia ini sebagai Allah sejati dan manusia sejati sekaligus.

Lalu bagaimanakah kita sebagai orang Kristen menghidupi apa yang telah kita mengerti? Kita yang hidup di dalam perjalanan sejarah yang pada dasarnya merefleksikan sifat Ketritunggalan Allah; sudahkah kita menghidupi apa yang Tuhan telah wahyukan? Karena tidak ada yang baik dan benar di luar apa yang dinyatakan oleh Allah sebagai baik dan benar itu sendiri. Sudahkah hidup ini merefleksikan kehadiran Allah, sama seperti sejarah yang telah dengan setia merefleksikan aspek ketritunggalan Allah? Yang tentunya tidak dituntut melebihi kita manusia, yang diciptakan berdasarkan peta dan teladan Allah. Sudahkah Anda? Selamat Natal!

Fransiska, Hans Sebastian, Harry, Santo Rodi, Stephen Prasetya
REDS – History (Historical Studies)