A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Hidup yang Mengenal Allah

Kehidupan Kristen yang sejati tidak lepas dari pergumulan dalam pengenalan akan Allah. John Calvin mengatakan: “Mengenal Allah, mengenal diri. Mengenal diri, mengenal Allah”. Tanpa pengenalan akan Allah, mustahil bagi kita untuk dapat mengenal siapa diri kita sendiri. Tanpa mengenal identitas diri, mustahil bagi kita untuk tahu apa yang harus kita kerjakan di atas dunia ini. Tanpa mengetahui apa yang harus kita kerjakan, mustahil bagi kita untuk hidup benar di hadapan Allah yang hidup.

Pengenalan akan Allah bukanlah merupakan hal yang hanya dapat kita perbincangkan di kelas-kelas theologi, kelas Pemahaman Alkitab, pembinaan di gereja, dan lain-lain, melainkan ini merupakan hal yang secara nyata sangat terkait dengan hidup kita sehari-hari. Sehingga ketika kita berbicara mengenai pengenalan akan Allah, maka kita sebenarnya sedang berbicara atau melihat kepada hidup kita secara pribadi di hadapan Allah. Kita harus sadar, bahwa jawaban dari pertanyaan seputar “apa itu pengenalan akan Allah?”, sesungguhnya tidak hanya terletak pada statement yang bisa atau sering kita lontarkan atau bahkan pada tulisan yang bisa kita tulis seperti artikel ini, melainkan jawaban itu merupakan pancaran dalam keseharian hidup. Ya... dalam keseharian hidup kita sebagai orang Kristen. Dalam setiap detakan jantung, dalam setiap detail aspek hidup kita. Itulah yang harus/wajib menjadi “tulisan” mengenai pengenalan saya (kita) akan Allah.

Firman Tuhan di Mazmur 139 (saya anjurkan kita untuk membaca seluruh pasal ini) menyatakan kepada kita tentang pengenalan Daud akan Allah. Pada awalnya, ketika saya membaca pasal ini, saya cenderung hanya senang melihat ayat 23 dan 24 saja serta melewatkan ayat-ayat sebelumnya karena terkesan bertele-tele dan tidak “to the point”. Akan tetapi saya SALAH. Saya mulai sadar dan mengerti ketika Roh Kudus mengiluminasikan dan memimpin saya untuk mencoba merenungkannya lebih dalam secara menyeluruh. Ternyata, ayat-ayat di Mazmur 139 ini mengutarakan kedetailan pergumulan Pemazmur dalam keseharian hidupnya. Pengenalannya akan Allah bukanlah sekedar konsep atau kalimat indah yang dengan mudah diucapkan di ayat 23 dan 24! Melainkan ini merupakan suatu bentuk pancaran dari proses hidupnya yang nyata dalam relasi dengan Allah yang berpribadi.

Kita sering kali lebih senang mencari insight-insight dalam bentuk poin-poin/kalimat instant. Kita suka pada hasil, tetapi membuang proses. Keindahaan kehidupan Kristen bukan hanya terletak pada hasilnya seperti apa, tetapi juga proses berjalan bersama Tuhan. Hidup yang berelasi dengan-Nya, itulah makna yang harus kita sadari dan renungkan.

“You know when I sit and when I rise; You perceive my thoughts from afar.” Pemazmur mengenal akan Allahnya yang mengetahui segala sesuatu (Omniscience). Bahkan hal-hal yang paling tersembunyipun, tidak lepas dari kemahatahuan Allah. Tidak ada yang tersembunyi bagi Allah. Isi hati kita, motivasi kita yang terdalam, pikiran kita… Allah mengetahui semuanya. Pengenalan kita akan Allah yang seperti itu seharusnya tidak mungkin membuat kita hidup secara sembarangan. Di satu sisi, hal ini akan membuat hidup kita senantiasa “was-was” dan takut di hadapan Allah. Takut kalau-kalau kita tidak setia dan berdosa karena  melanggar kehendak-Nya. Takut kalau-kalau hati kita memiliki kebusukan terselubung, yang bahkan kita sendiri tidak sadari. Di sisi lain, hal ini juga memberikan penghiburan kepada kita bahwa Allah mengetahui diri kita. Lalu, apa yang perlu kita takutkan dan khawatirkan? Ia bahkan lebih mengenal diri kita daripada kita mengenal diri kita sendiri. “O LORD, you have searched me and you know me”. Alangkah sejahteranya ketika seluruh hidup kita berada di tangan Allah yang paling mengenal diri kita. Asalkan kita sungguh-sungguh mencari kerajaan Allah dan menjalankan kehendak-Nya.

Orang yang makin mengenal Allah tidak pernah berakhir disertai rasa “puas”/”komplit” dengan pemahamannya atau pengetahuannya tentang Allah. Seorang Kristen dalam pengenalannya akan Allah yang sejati, selalu disertai dengan kekaguman terhadap Allah dan kesadaran akan betapa kecilnya dia. Melihat kebesaran Allah berarti melihat diri makin kecil dan takluk di hadapan Allah. Ketika kita dapat melihat Allah semakin besar dan mulia dalam hidup kita, justru di situlah kita yang sedang bertumbuh. “Such knowledge is too wonderful for me, too lofty for me to attain”

Sering kali bila di rumah atau di sekolah, kita merasa “bebas” ketika guru atau orang tua kita sedang pergi atau tidak memperhatikan aktivitas kita. Namun tidak demikian halnya dengan Allah kita. Ayat berikutnya dipaparkan kesadaran akan Allah yang maha hadir dan berotoritas di manapun (Omnipresence). Bahkan dikatakan bahwa di dunia orang matipun Allah hadir. Dia senantiasa hadir, melihat, dan menuntut pertanggungjawaban kita. Demikian kehadiran-Nya dapat menyatakan berkat maupun penghukuman-Nya. Di manapun kita berada, Allah ada. Allah kita bukanlah Allah yang terbatas oleh teritori, melainkan Ia adalah Allah yang berdaulat atas teritori. Oleh sebab itu, di manapun kita berada, di situ kita berelasi dan bertanggung jawab di hadapan Allah Sang Pencipta. Tanggung jawab kita bukan kepada manusia, tetapi langsung kepada Pribadi Allah Sang Pencipta itu sendiri. “Where can I go from your Spirit? Where can I flee from your presence?”

Allah yang maha tahu dan maha hadir itu juga adalah Allah yang menciptakan kita. Yang telah merajut kita di kandungan ibu. Siapakah yang berani menghina karya Allah ini? Allah yang mencipta kita adalah Allah yang mempunyai rencana bagi diri kita, bahkan sejak kekekalan. Sehingga tidak ada satupun kejadian dalam hidup kita yang dapat lepas dari kedaulatan-Nya. Ketika di dalam kesulitan, seharusnya kita bukan berespons kepada masalah itu sendiri – frustasi memikirkan bagaimana cara keluar dari permasalahan yang ada. Melainkan kita harus kembali berespons kepada Allah dengan melihat kepada apa rencana Allah bagi hidupku? Allah mau nyatakan apa dari kesulitan ini? “All the days ordained for me were written in your book before one of them came to be.”

Allah yang maha hadir dan mengetahui segala sesuatu seharusnya merupakan penghiburan bagi kita dalam segala keadaan, termasuk ketika kita dalam keadaan galau dan khawatir. Dalam keadaan di mana sepertinya tidak ada jalan keluar yang terlihat – terpojok dan tidak tahu harus berharap kepada siapa. Kita sering kali khawatir akan sesuatu yang kita tidak tahu dengan pasti akan terjadi seperti apa. Kita ragu dan terus ragu akan apa yang akan terjadi sehingga “himpitan” tersebut sering kali membuat kita kompromi pada dunia dan memalingkan fokus kita dari kehendak Allah. Sesungguhnya hal itu tidak seharusnya terjadi. Kebersandaran kita kepada Sang Pencipta dan Penebus kita seharusnya membuat kita teguh dan terus setia berjalan bersama-Nya. Kemana pun kita pergi, kita percaya Penyelamat dan Penebus kita juga ada di situ. “even there your hand will guide me, your right hand will hold me fast.” Jangan sampai kita lupa akan kasih-Nya pada kita (Gereja-Nya) yang teramat besar dan nyata di sepanjang sejarah. Karena memang sering kali situasi-situasi seperti ini sangat berpotensi membuat kita meragukan dan lupa akan kasih Allah. Biarlah kita tidak kompromi dan membiarkan kekhawatiran menelan hidup kita. Tetaplah teguh bersandar pada Salib Kristus, seperti lirik lagu yang berbunyi: “Ku tahu Tuhan pasti buka jalan...Asal ku hidup suci, tidak turut dunia...Ku tahu Tuhan pasti buka jalan..”

Sebuah tulisan oleh J.I Packer dalam bukunya Knowing God, dikatakan bahwa: “Jikalau kita menempatkan diri kita pada pengenalan akan Allah, maka seluruh aspek hidup kita akan jatuh kepada tempat yang semestinya.”(J.I. PACKER)

Terakhir, pengenalan akan Allah tidak mungkin dilepaskan dari masalah relasi. Tidak ada pengenalan yang sejati tanpa kita berelasi dengan oknum yang ingin kita kenali. Pengenalan sejati tidak dapat dilakukan dalam konteks sekedar menyatakan benar atau salah, pengenalan sejati adalah ketika kita sedang berelasi dengan Pribadi hidup yang senantiasa menyatakan kehendak dan rencana-Nya. Oleh karena itu, hendaklah hati kita senantiasa dipenuhi dengan cinta kasih kepada Allah agar kita dapat bertumbuh dalam pengenalan akan Diri dan kehendak Allah. Dengan senantiasa mengakrabkan telinga kita kepada Firman-Nya (Alkitab) dan terus berusaha sepenuhnya menjalankan hidup yang semakin dimurnikan oleh Roh Kudus, kita akan terus diubahkan makin hari makin serupa seperti Kristus dalam menggenapi kehendak Bapa di Surga. Itulah sesungguhnya hidup yang mengenal Allah! “Search me, O God, and know my heart; test me and know my anxious thoughts. See if there is any offensive way in me, and lead me in the way everlasting.”

Kiranya Tuhan memberikan kita cinta kasih yang cukup untuk terus setia dan tekun mengerjakan apa yang seharusnya kita lakukan… mengenal Dia seutuhnya. Amin.

Andre Tirta Winoto