A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Christian Worldview

Sejarah hidup manusia telah dimulai dengan sebuah titik yang begitu baik adanya. Itulah titik alfa di mana Tuhan menciptakan seluruh isi dunia ini baik dan sempurna. Demikian juga, manusia diciptakan oleh Allah sungguh amat baik adanya. Sebagai peta teladan Allah, dengan mandat agung yang telah diberikan Allah kepadanya untuk mengusahakan dan membudidayakan alam dimulai dengan sebuah taman. Ya... sebuah taman di mana Allah bertahta sebagai Raja, Allah Pencipta langit dan bumi. Sebuah taman di mana manusia hidup bersama dengan Allah dalam relasi yang begitu intim. Seluruhnya untuk menuju sebuah kota di mana seluruh ciptaan ditaklukan di bawah kuasa Sang Pencipta, yaitu Allah sendiri. Akan tetapi, dalam kondisi yang sedemikian indah ini, manusia telah memberontak melawan Allah. Manusia ingin menjadi seperti Allah dan menjadikan diri sebagai pusat seluruh ciptaan. Inilah sebuah realita yang telah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. Sebuah realita di mana relasi manusia dengan Allah Sang Pencipta telah rusak. Sebuah realita di mana relasi kasih yang begitu intim itu terputus. Ya... inilah realita di mana manusia telah jatuh ke dalam dosa, berada pada posisi yang tidak semestinya dan sedang menuju kematian.

Pemberontakan manusia yang utama adalah mengejar otonomi diri yang artinya terlepas dari Allah dan ingin menjadi seperti Allah (Kej 3). Dengan demikian, ia tidak lagi berada pada posisi yang seharusnya. Alkitab menyatakan, bahwa tidak ada manusia yang mencari Allah, seorangpun tidak. Hari-harinya perlahan merangkak, berjalan, dan berlari menuju jurang kematian yang dalam. Meskipun demikian, manusia dalam keberdosaannya, terus berusaha mencari pencapaian-pencapaian serta kesempurnaan (human perfection) berdasarkan dari dirinya sendiri dan tentu saja berpusat kepada diri. Dosa telah merasuk segala aspek kehidupan manusia. Segala budaya yang telah dihasilkan oleh manusia berdosa tidak pernah terlepas dari pengaruh dosa yang terus mengerogotinya. Hal ini nyata, namun seringkali tidak kita sadari. Salah satu usaha manusia dalam mengejar kesempurnaan dapat kita lihat dalam aspek teknologi. Teknologi maju sedemikan pesatnya dan seringkali dijadikan indikasi kemajuan suatu negara ataupun suatu kelompok tertentu. Dengan kata lain, teknologi itu sudah menjadi lambang kemajuan kebudayaan dalam pencapaian peradaban. Berapa banyak dari kita yang tidak ikut berpesta dalam kecanggihan teknologi ini? Akan tetapi, benarkah dengan adanya kemajuan serta kecanggihan teknologi ini, sungguh membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik? Lebih jauh lagi, apakah kehidupan yang lebih baik yang dimaksudkan itu adalah “baik” menurut manusia ataukah “baik” menurut kehendak Sang Pencipta langit dan bumi? Benarkah semakin dunia ini maju dengan kecanggihan teknologinya, justru kerusakan dan proses kematian manusia makin dihidupi dengan lebih hebat lagi?

Pengkotbah mengatakan, seluruh pencapaian manusia berdosa berakhir dengan sia-sia dan bagaikan usaha menjaring angin. Setelah jatuh dalam dosa, manusia tidak dapat lepas dari tragedi yang terus menerus terjadi dalam hidupnya, entah disadari atau tidak. Manusia terus berusaha mencari jawaban mengatasi masalah yang ada berdasarkan kemampuan dirinya sendiri (self autonomous). Seperti orang Israel yang meminta jawaban dari Baal, demikian manusia berdosa mencari jawaban dari dewa ilmu pengetahuan dan teknologi. Berteriak-teriak mencari jawaban... tetapi... No answer! Tidak ada jawaban dari diri manusia berdosa atas tragedi hidup yang telah melandanya. Pemberontakan manusia kepada Allah, menyebabkan manusia berada dalam sebuah sistem hidup yang tertutup (closed system). Ia berusaha meniadakan Allah, meskipun Allahlah realita yang sesungguhnya. Inilah usaha manusia berdosa menekan kebenaran. Manusia berusaha menipu diri dari realita yang terjadi, sehingga ia menciptakan sebuah realita baru, yaitu realita bahwa manusia sedang memalsukan realita sesungguhnya. Ia menciptakan realita semu-nya (virtual reality) sendiri sesuai kehendaknya. Apa yang sebenarnya terjadi, ia tidak peduli. Di tengah-tengah virtual reality, manusia melihat kemajuan peradaban manusia yang sedemikian melesat jauh dan telah membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik, tetapi realita sebenarnya mengatakan justru manusia makin diseret ke dalam jurang kematian yang makin hari makin dalam. Itulah kita sebagai manusia-manusia berdosa. Bahkan sebagai umat Allah yang sudah ditebus, seringkali kita secara tidak sadar menghidupi ketidakpedulian dari realita semu seperti demikian. Sebagai orang Kristen, sadarkah kita akan dosa yang telah mengergoti seluruh peradaban manusia, termasuk ilmu pengetahuan yang kita pelajari? Dengan standar apa kita menilai ilmu yang kita terima sebagai suatu kebenaran yang absolut?

Dengan berbagai teknologi yang ada, kita seakan-akan mendapat kebahagiaan dan mungkin kita menganggap itu sebagai pencapaian yang layak kita nikmati. Tetapi seringkali yang bahagia menurut manusia itu bahaya, yg dianggap powerful itu krisis dan bahaya. Pencobaan selalu dimulai dari kemanisan dan kejatuhan manusia dimulai dari kebebasan liar. Demikian, manusia terus tertidur dalam realita semunya masing-masing dan terus berlari mengejar jurang kematiannya secara tidak disadari.

Syukur kepada Allah, atas kasih-Nya yang secara inisiatif masuk ke dalam dunia berdosa ini, menyadarkan dan membangunkan kita dari keterlelapan selama ini. Kristus datang menebus dosa kita, Ia menanggung segala dosa umat manusia. Hanya melalui Kristus kita dapat kembali mengetahui realita sesungguhnya karena Dialah Sang Kebenaran itu sendiri, Allah yang mendasari segala sesuatu. Dialah pendefinisi dari segala sesuatu. Dialah sumber dan standar dari segala sesuatu. Karena di dalam Dialah segala sesuatu diciptakan (Kol. 1:16-17). Dengan begitu, kita kembali boleh menempati posisi kita masing-masing sebagai peta teladan Allah di tengah-tengah dunia ini. Inilah peperangan dari zaman ke zaman yang dihadapi oleh setiap orang Kristen, entah kita sadari atau tidak. Di tengah-tengah berbagai filsafat yang telah mempengaruhi serta membius kita dalam berbagai aspek kehidupan, hendaklah kita mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah dan senantiasa rendah hati untuk diajar oleh Firman serta dirombak seluruh cara pikir kita. Karena kita dipanggil bukan hanya untuk menikmati anugerah keselamatan, melainkan untuk mengerjakan keselamatan itu di dalam dunia berdosa ini. Seharusnya kita sadar, bahwa peperangan ini begitu sulit. Dosa tampak telah begitu berkuasa sehingga seperti pada film War of the Worlds dikatakan ini merupakan pembantaian terhadap umat manusia. Kita seakan-akan tidak berdaya mengahadapi ini semua. Tetapi sekali lagi, Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup. Ia adalah Allah yang setia yang akan terus menopang umat yang sudah dipilihnya untuk dengan pasti memenangkan pertempuran ini. Ia dengan setia terus menopang Gereja Tuhan dari zaman ke zaman. Biarlah dalam hidup kita, kita semakin peka akan kesempatan yang Tuhan nyatakan sehingga kita kembali hidup seturut dengan kehendak-Nya. Dan kita senantiasa dapat memuji memuliakan Tuhan melalui hidup kita, seperti kalimat pada sebuah lagu yang mengatakan:

“I know God's love will keep me. God's mighty hand will defend me. And in God's strength I'll stand. So by faith I'll trust, and with grace I'll learn"

Andre Winoto
REDS – Tech