A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Gaya Bahasa Dalam Sastra

Di dalam ilmu bahasa (linguistik), cabang yang mempelajari tentang style penulisan adalah stylistic. Tugas stylistic adalah mempelajari dan menjelaskan mengapa dan bagaimana style dapat mengutarakan arti dan makna, lalu memberikan efek yang diinginkan penulis pada pembaca. Pembaca pada umumnya adalah penganut dualisme di dalam stylistic karena mengakui adanya perbedaan isi dan style. Bagi mereka ada banyak style yang sama baiknya untuk mengungkapkan suatu isi pikiran. Misalnya, ada banyak cara yang sama baiknya untuk mengungkapkan kalimat: “Desdemona mengambil sebuah kursi, lalu mendudukinya.” Apakah ini benar?

Sebuah pandangan yang berseberangan dengan dualisme adalah monisme. Bagi monisme, style dan isi tidak dapat dibedakan. Style adalah isi dan isi adalah style yang kita lihat; di antara keduanya tidak ada distingsi sama sekali. Mengubah style artinya mengubah isi. Teori ini terlihat benar ketika kita mengamati satu puisi. Mengubah style sebuah puisi seringkali akan mengubah isinya. Tetapi monisme tidak dapat menjelaskan mengapa mengubah isi tidak sama dengan hanya mengubah style. Selain itu, mengubah style juga tidak selalu berarti mengubah isi.

Nampaknya dualisme dan monisme tidak seluruhnya benar, namun juga tidak seluruhnya salah. Sebagai orang Kristen, kubu yang manakah yang harus kita pilih? Monisme atau dualisme? Atau apakah kita, sebagai penerima wahyu khusus, dapat memberikan sebuah cara alternatif mengerti hubungan isi-style yang berbeda dari yang ditawarkan kedua kubu di atas?

Karena masalah style dan isi ini menyangkut bidang bahasa, kita perlu melihat ke dalam Alkitab dan mencari prinsip yang membicarakan bahasa. Apakah Alkitab memberikan prinsip kebenaran di dalam bidang bahasa? Atau, apakah Alkitab menyediakan contoh natur bahasa yang sempurna, ideal, dan dapat menjadi archetype (model sempurna) bagi seluruh bahasa di dunia? Jawabannya adalah: ada. Archetype bahasa ada pada Allah Tritunggal. Ada beberapa ayat yang perlu kita perhatikan menyangkut natur bahasa:

“Pada mulanya adalah Sang Kata; Sang Kata itu bersama-sama dengan Allah dan Sang Kata itu adalah Allah.” (Yoh 1:1)

“Sekiranya kamu mengenal aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” (Yoh 14:7)

“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” (Yoh 14:9)

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan.” (Kol 1:15)

“The Son is the radiance of God’s glory and the exact representation of his being.” (Ibr 1:3) [i]

“Yesus . . . penuh dengan Roh Kudus.” (Luk 4:1)

Alkitab mengajarkan bahwa Kristus adalah Kata yang keluar (manifestasi) dari Allah Bapa. Ia adalah Wahyu yang diberikan oleh Bapa supaya Bapa yang tidak kelihatan itu boleh dikenal oleh manusia. Sang Kata adalah representasi keberadaan-Nya dan tidak ada distorsi antara yang merepresentasi dan yang direpresentasikan. Barangsiapa yang sudah melihat yang merepresentasikan, dia juga sudah melihat yang direpresentasikan, tetapi yang merepresentasikan itu bukan yang direpresentasikan. Dan semua ini dapat terjadi karena ada Roh Kudus yang mengikat yang merepresentasikan dengan yang direpresentasikan.

Menurut Vern Poythress, kita dapat menganalogikan relasi pikiran-kata dengan Bapa-Kata, “On a human level, we may say that the relation between human thought and human word is analogical to the relation between the Father and the Word."[ii] Di sini saya ingin menarik lebih jauh lagi analogi tersebut. Bapa-Anak bukan hanya menjadi analogi model pikiran-kata, tetapi juga dengan content-form, matter-manner, message-expression, atau isi-style. Jika memang demikian, ayat-ayat yang baru kita baca tadi dapat kita gunakan untuk menjawab baik monisme maupun dualisme.

Monisme benar di dalam mempertahankan pentingnya kemutlakan representasi (style). Ketika representasinya diubah, makna yang hendak disampaikan juga terpengaruh, karena ada ide yang lebih tepat direpresentasikan oleh suatu representasi tertentu daripada representasi yang lain, yang mana jika representasi yang paling tepat itu diganti dengan representasi yang kurang tepat, maka makna yang disampaikan juga akan meleset dari yang diinginkan. Tetapi monisme salah karena tidak mau membedakan antara yang merepresentasi dengan yang direpresentasikan. Style hanyalah representasi dari ide yang tidak kelihatan yang berada di luar bahasa. Style bukanlah ide itu sendiri.

Dualisme benar karena membedakan yang direpresentasi dengan yang merepresentasi. Yang merepresentasi memang bukan yang direpresentasi, dan yang direpresentasi bukan yang merepresentasi. Namun dualisme jenis pertama melangkah terlalu jauh ketika berkata bahwa yang merepresentasikan hanyalah dekorasi dari yang direpresentasikan. Yang merepresentasikan juga boleh tidak hadir. Ini adalah hal yang mustahil karena yang direpresentasi adalah sesuatu yang di luar bahasa. Kembali kepada model Bapa-Kata, kita tahu bahwa tidak ada orang yang bisa langsung melihat Allah Bapa. Kita selalu memerlukan Mediator, yaitu Yesus Kristus.

Dualisme jenis kedua salah karena mengatakan bahwa ada banyak pilihan representasi yang sama tepatnya di dalam merepresentasi sebuah ide. Ini bukanlah yang terdapat dalam model Bapa-Kata. Di dalam model itu, tidak ada yang dapat merepresentasikan Bapa dengan lebih exact daripada yang dapat dilakukan oleh Sang Kata. Setiap ide mempunyai satu representasi yang paling tepat, dan tugas para penulis adalah menemukan dan menggunakannya. Penulis yang baik adalah penulis yang dapat menemukan style yang paling representatif bagi pikirannya.

Sebagai penulis Kristen, kita seharusnya terus menerus bergumul dan bergelut dengan pena kita sampai kita dapat mengeluarkan style yang paling representatif. Sebagai Anak yang diutus, Yesus taat sebagai hamba kepada Bapa karena Ia ingin seakurat mungkin merepresentasikan Bapa. Maka dengan semangat manifestasional Kristus ini, marilah kita juga berjuang untuk mengeluarkan style yang serepresentatif mungkin untuk pikiran kita. Soli Deo Gloria.

(diringkas dari artikel dengan judul yang sama dalam Buletin Pillar edisi Mei 2008)

Erwan
REDS - Art

[i] Terjemahan NIV. Terjemahan LAI kurang menggigit, “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.” Di sini kata “exact” tidak terterjemahkan.
[ii] Poythress, V. (19--). God-Centered Biblical Interpretation. Philipsburg: Presbyterian and Reformed Publishing Company. Diambil dari versi web: http://www.frame-poythress.org/Poythress_books/ GCBI/BG00Front.htm. Bab 7.

"Saya harus berterus terang dengan kalian: bahaya terbesar yang sedang dihadapi oleh kekristenan Injili di Amerika adalah bahaya anti-intelektualisme. Dunia pikiran tidak cukup diperhatikan sampai pencapaian yang paling dalam. Tetapi pengasuhan intelektual tidak dapat terjadi dengan tidak adanya ketercemplungan ke dalam periode tahun-tahun di dalam sejarah pemikiran dan semangat. Orang-orang yang buru-buru ingin selesai dari universitas dan mulai mencari penghasilan atau melayani di gereja atau mengkhotbahkan Injil tidak tahu betapa besarnya nilai menghabiskan bertahun-tahun pembicaraan dalam waktu senggang dengan pikiran dan jiwa terbesar di masa lalu, mematangkan, mengasah, dan memperbesar kekuatan berpikir mereka. Akibatnya, arena pemikiran kreatif ditinggal dan diserahkan kepada musuh. Siapakah di antara para Injili yang dapat berdiri menghadapi sarjana besar sekuler dengan memakai istilah kesarjanaan mereka sendiri? Siapakah sarjana Injili yang dikutip sebagai sumber yang normatif oleh otoritas sekuler terbesar dalam bidang sejarah atau filsafat atau psikologi atau sosiologi atau politik? Apakah cara berpikir Injili punya peluang yang paling tipis untuk menjadi cara yang dominan di dalam universitas-universitas besar di Eropa dan Amerika yang membentuk seluruh peradaban kita dengan semangat dan ide mereka? Demi keefektifan yang lebih besar untuk bersaksi bagi Yesus Kristus, juga demi mereka sendiri, kaum Injili tidak boleh tetap hidup di lapisan luar tanggung jawab keberadaan intelektual."

Charles Malik