A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

He Gave Us Name

Memberikan nama adalah sesuatu hal yang sangat biasa dilakukan oleh pasangan suami istri yang sedang menantikan hadirnya sang buah hati ke dunia. Mereka tidak hanya direpotkan dengan urusan sehat atau cacatnya sang bayi, cara persalinan, persiapan finansial, tetapi juga urusan mencari nama. Tidak jarang buku-buku berisikan ribuan nama bayi yang dilengkapi dengan maknanya dibeli, dibaca dengan teliti, dan dipikirkan serta didiskusikan dengan serius.

Mengapa nama ini begitu penting? Mengapa orang tua harus demikian bergumul demi urusan nama ini? Jawaban sederhananya adalah karena nama inilah kelak akan melekat seumur hidup dengan bayi tersebut, dari sejak awal ketika ia dimasukkan ke dalam box bayi di kamar bayi rumah sakit sampai kelak pada akhir hidupnya diwakili oleh batu nisan. Nama inilah yang akan menjadi identitas pembeda dirinya dengan bayi lain ataupun jenasah lain. Maka tentunya identitas ini amatlah penting.

Selain itu, identitas ini bukan hanya menyatakan keberadaannya secara objektif, namun juga makna yang tersimpan dalam nama itu yang seringkali adalah sebuah doa pengharapan orang tua. Mereka berharap agar kelak anak mereka menjadi seperti makna yang terkandung di dalamnya. Maka tidak heran, orang tua Kristen selain membeli banyak buku nama-nama bayi, mereka akan semakin rajin membaca Alkitab dan mencari nama-nama tokoh yang telah membuktikan “keberhasilan” mereka dalam sejarah Alkitab. Maka mulai dari nama Abraham di Perjanjian Lama sampai kepada Paulus dalam Perjanjian Baru, menjadi nama yang demikian laku di pasaran. Karena para orang tua demikian rindu nama yang disandang oleh anak mereka kelak akan terwujud secara nyata sebagai pengikut Kristus yang setia, Abraham yang beriman ataupun Paulus yang berkobar dalam pekerjaan Tuhan.

Namun jika diteliti lebih jauh, hal ini hampir serupa dengan istilah “Ming Chia” yang sudah berkembang ratusan tahun sebelum Masehi di dataran Cina. Ming Chia atau istilah lainnya, Ming Shih, membicarakan hubungan antara Ming (nama) dan Shih (aktualitas). Di dalam pergulatan mengenai mahzab nama-nama ini, dua orang yang penting dalam memperkembangkan pemikiran ini adalah Hui Shih dan Kung Sun Lung. Kedua orang ini mempresentasikan dua hal yang berbeda. Hui Shih menekankan relativitas sesuatu yang aktual, dan Kung Sun Lung menekankan akan kemutlakan nama. Perbedaan ini menjadi jelas ketika orang menganalisis nama dalam keterkaitannya dengan aktualitas. Untuk menjelaskan akan hal ini, Fung Yu Lan mengambil contoh demikian: ada sebuah pernyataan “ini adalah sebuah meja.” Kata “ini” mengungkapkan suatu aktualitas yang konkret, yang bersifat tidak tetap dan bisa saja datang dan pergi. Tetapi kata “meja”, mengacu pada sebuah kategori abstrak atau nama yang tidak berubah dan selalu tetap sebagaimana adanya. “Nama” bersifat mutlak, sedangkan “aktualitas” bersifat relatif. Sehingga “keindahan” merupakan nama dari sesuatu yang indah yang bersifat mutlak, namun “suatu benda yang indah” hanya dapat bersifat relatif. Hui Shih menekankan bahwa sesuatu yang aktual bisa berubah dan bersifat relatif, sedangkan Kung Sun Lung menekankan kenyataan bahwa nama-nama merupakan hal yang bersifat tetap dan mutlak.

Demikian pentingnya mahzab nama-nama ini, maka tidak heran seorang guru besar Cina sepanjang zaman, Confucius ketika ditanya oleh muridnya mengenai apa yang kelak dilakukannya jikalau suatu saat ia memerintah sebuah negara. Dia menjawab: “satu-satunya hal yang pertama kali diperlukan adalah membetulkan nama-nama”. Kemudian pada kesempatan lain, seorang bangsawan penguasa pada masa itu bertanya kepada Confucius tentang prinsip pemerintahan, maka jawabnya adalah “Hendaknya penguasa menjadi seorang penguasa, menteri menjadi seorang menteri, ayah menjadi seorang ayah, dan anak menjadi seorang anak.” Dengan kata lain, setiap nama mengandung implikasi tertentu yang merupakan esensi kelas segala hal yang menyandang nama-nama tersebut. Karenanya, hal-hal semacam itu harus sesuai dengan esensi idealnya. Esensi penguasa adalah memiliki sifat-sifat idealnya penguasa, atau apa yang disebut dalam bahasa Cina “jalan penguasa”. Jika tindakan seorang penguasa sesuai dengan jalan penguasa ini, maka ia adalah seorang penguasa yang sesungguhnya, baik dalam kenyataan maupun dalam nama. Ada kesesuaian antara nama dan kenyataan yang sebenarnya. Tetapi jika tidak demikian, maka ia bukan penguasa, bahkan walaupun ia dipandang sebagai penguasa oleh rakyatnya. Setiap nama dalam hubungan sosial mengandung tanggung jawab dan kewajiban tertentu. Penguasa, menteri, ayah, dan anak, semuanya adalah nama-nama dalam hubungan sosial semacam itu, dan individu-individu yang menyandang nama-nama ini harus memenuhi tanggung jawab dan kewajbannya sesuai dengan nama-nama tersebut. Hal-hal semacam itulah yang menjadi implikasi teori Confucius tentang pembetulan nama-nama.

Jika sudah demikian jauhnya pemikiran manusia, bahkan sejak ratusan tahun sebelum Masehi, mari kita coba tengok lebih jauh akan apa yang dinyatakan ribuan tahun sebelum Masehi mengenai pemberian nama. Musa mencatat, pemberian nama pertama kali diberikan Allah pada terang. “Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam.” Kemudian dilanjutkan dengan Allah memberikan nama kepada cakrawala, daratan, dan lautan. Bahkan setiap kali Allah memberi nama seluruh ciptaan-Nya, Ia sudah memberikan aktualitas bahwa semuanya itu baik adanya. Dan pada puncaknya Allah menciptakan manusia (Ibrani: Adam) dengan aktualitas yang sungguh amat baik. Maka dalam kelanjutannya kita dapat melihat bahwa tugas penamaan ini dilanjutkan oleh Adam yang pertama – the first imago Dei.

Demikianlah sang image Allah inipun menamai segala binatang hutan dan seluruh burung di udara, yang telah Allah bawa ke hadapannya. Bahkan Musa mencatat, “Dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikian kelak nama-nama makhluk itu.” Sehingga di sini kita dapat menilai bahwa Adam melakukan tugasnya dengan baik. Ia dapat menginterpretasikan dan memberikan nama sesuai dengan nama yang TUHAN Allah ingin berikan yang kelak selaras dengan aktualitas yang dinyatakan oleh semua makhluk itu. Bahkan sang imago Dei pertama inipun menamai “perempuan” atau “Hawa” kepada isterinya itu, karena “yang diambil dari laki-laki” inilah yang kelak akan menjadi ibu dari semua yang hidup. Melalui seluruh penamaan, baik yang dilakukan oleh Allah maupun oleh manusia, Allah menyatakan Diri-Nya yang dengan setia menggenapi janji-Nya. Dari yang sejak awal diberikan nama hingga pada aktualitasnya, kitapun sadar akan signifikansi keberadaan Allah, Allah dengan sifat kekekalan-Nya, kekonsistenan-Nya, dan kesetiaan-Nya dalam menggenapi janjiNya – Allah yang melampaui batasan ruang dan waktu. Hal ini tercakup di dalam janji yang dulu, sekarang, ataupun yang akan datang. Dengan kata lain, Allah kita adalah Allah yang menyatakan Diri-Nya sebagai not only I am what I am at present, but I am what I have been, and I am what I shall be, and shall be what I am. Allah yang menyatakan kedaulatan-Nya dengan begitu kental sehingga Ia menamai seluruh ciptaan-Nya dan bahkan menjamin akan aktualitas yang dinyatakan ciptaan-Nya kemudian. I am who I am, I will be that I will be.

Namun setelah manusia jatuh dalam dosa, nama dan aktualitas menjadi tidak sinkron adanya. Manusia yang diciptakan untuk berespons kepada Allah, sekarang berespons kepada ular. Manusia yang dicipta untuk taat kepada dan sinkron penuh dengan Allah, sekarang menambah dan mengurangi sana sini perintah Allah. Manusia mengurangi nama pohon dalam percakapannya dengan ular, menambahkan kata “raba”, dan juga menggantikan kalimat kepastian “pastilah engkau mati” dengan kemungkian “nanti engkau mati”. Manusia yang dicipta untuk berlaku secara receptively reconstructive, sekarang berlaku secara creatively constructive. Maka mulai saat itu jugalah manusia tidak lagi menjadi sungguh amat baik secara aktualitas, namun mengalami total depravity. Sebagai imago Dei (nama), manusia tidak lagi menyatakan Allah dan kehendak-Nya (aktualitas). Manusia mengonstruksi hidupnya secara kreatif sesuai kehendak dirinya sendiri dan bukan merekonstruksi seluruh perintah Allah yang diterimanya secara utuh untuk menyatakan dirinya sebagai imago Dei.

Dengan demikian imago Dei yang seharusnya bertugas sebagai covenant keeper (pemelihara perjanjian) kini di dalam keberdosaannya berubah menjadi covenant breaker (pelanggar perjanjian). Namun di dalam kondisi kejatuhan ini, Allah bukan saja tetap memelihara ciptaan-Nya, tetapi Allah bahkan terus memberikan pengharapan melalui perjanjian-Nya dan ditandai dengan pembalikan nama. Janji (nama) ini nyata (aktualitas) ketika Allah menggantikan nama Abram menjadi Abraham. “High father” kini menjadi “Father of multitudes”. Demikian juga Yakub yang setelah bergulat dengan Allah, kini diganti namanya menjadi “Israel”. Kemudian kisah yang paling berkesan dalam Perjanjian Baru adalah pada saat Saulus, sang pemburu orang percaya itu dibalikkan menjadi Paulus dengan arti “the prophet”. Pembalikan nama inilah yang menandai pengembalian makna hidup manusia menjadi seorang covenant keeper yang hidup secara receptively reconstructive.

Nah, kini bukankah dapat kita lihat betapa jauh lebih tingginya makna atas pemberian nama dan bahkan sampai kepada pembalikan nama oleh Allah kepada umat-Nya? Jikalau Confucius hanya membalikkan nama sesuai yang sudah ada – yang tidak pernah ia mengerti dari mana asalnya – maka pembalikan nama yang Allah berikan adalah yang memang pada mulanya nama-nama tersebut. Dialah Pemberi nama yang sejati, Dialah Sang Interpretator yang sejati, Dialah Sang Pencipta langit dan bumi!

Maka sungguh alangkah sukacitanya ketika Yesus yang menyelamatkan umatNya dari dosa mereka, adalah Kristus – Sang Imanuel, Allah beserta kita – yang telah menyatakan aktualitas-Nya (penyertaan-Nya) pada saat mula dunia diciptakan, di dalam sejarah yang lampau, saat ini, dan bahkan sampai kepada akhir jaman. Nama yang di atas segala nama inilah yang membuat seluruh makhluk bertekuk lutut di bawah kaki-Nya. Nama yang akan menghakimi seluruh manusia dan kita juga yang mengakui diri sebagai christian, pengikut Kristus.

Nama apakah yang tertera pada kartu identitas kita? Abrahamkah? Pauluskah? Yang pasti nama apapun yang tercetak pada akte kelahiran kita, kita semua memiliki keseragaman nama setelah dilahirbarukan di dalam iman yaitu anak-anak Allah, pengikut Kristus, gereja Tuhan, ataupun tubuh Kristus. Nah... apakah nama itu juga ternyatakan dalam hidup kita sebagai penyataan aktualitas atas nama itu? Marilah kita renungkan sejenak… Sudahkah kita yang dicipta sebagai imago Dei (nama) menjalankan (aktualitas) panggilan kita dengan terus mengejar kebenaran Allah, menggumulkannya, dan merekonstruksikannya di dalam seluruh hidup kita sehingga hidup kita ini semakin berkenan di hadapan Allah Pencipta langit dan bumi, Sang Pemberi nama.

Rebecca Puspasari
REDS – Christian Life

Referensi:

  1. Fung, Yu-Lan. Sejarah Filsafat Cina.
  2. Henry, Matthew. Commentary on the Whole Bible.
  3. Van Til, Cornelius. An Introduction to Systematic Theology.
  4. Khotbah-khotbah tentang Christian Worldview di FIRES.