A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Christian Life In Detail

What is life? Mungkin bagi saya, hidup adalah bangun tidur (tentu saja dengan tidak pernah tidak menekan tombol snooze pada alarm HP, sekalipun saya tahu Amsal 6:10-11), mandi (tanpa berpikir berapa kubik air yang terlampau banyak digunakan untuk itu), sikat gigi (dengan odol kebanyakan dan tumpah sana sini), saat teduh (kalau sempat), kemudian ngebut ke kampus (untuk salin PR dari “best friend”), belajar di kampus (boro-boro mengkaitkan ilmu dengan Firman Tuhan, wong contoh soal aja ga ngerti), makan (terlampau banyak, jadi ngantuk, males ngapa-ngapain, dan seluruh kalori mengendap di perut), dan terakhir tidur (secepat mungkin agar dapat tidur selama mungkin). Cukup familiar dengan kisah ini?

Segala rutinitas di atas hanyalah sebagian kecil cuplikan dari contoh hidup manusia yang teramat sangat luas. Ketika ditanya apa beda cara hidupmu – yang katanya adalah orang Kristen – dengan non-Kristen? Mungkin dengan mantap, saya dapat menjawab, “Tentu saja berbeda!”. Setiap minggu saya ke gereja (mendengarkan banyak, bisa mengutip banyak quotation, namun sedikit dan bahkan hampir tidak ada yang dihidupi), aktif di persekutuan pemuda (sekedar tambahan/selingan kalau sedang tidak ada ujian atau tugas di kampus), aktif di paduan suara gereja (sering kali tidak bernyanyi, hanya bersuara/membunyikan nada-nada dengan tepat). Inilah bedanya. Orang Kristen berbeda dengan non-Kristen, yang mungkin menghabiskan hari minggu mereka dengan bersantai ria. Inikah bedanya?

Benarkah itu jawabannya? Sesungguhnya, yang harus terus menerus menanyakan dalam diri saudara dan saya: itukah hidup sebagai orang Kristen? Sudahkah saya hidup sebagai orang Kristen? Kristenkah kehidupan saya yang katanya orang Kristen ini?

Dalam segala kesibukan dan rutinitas yang kita jalani, sering kali kita jatuh pada kecenderungan untuk melayani serentetan kegiatan yang kita lakukan secara sadar ataupun tidak sadar. Kita tidak tahu kenapa kita harus melakukannya. Sampai pada akhirnya, ketika kita melihat ke belakang, kita baru bertanya-tanya, apakah sebenarnya yang sudah kita kerjakan? Jangan sampai kita ikut “bersumbangsih” dalam sederetan ayat-ayat yang dicatat dalam Alkitab dengan sangat “membosankan”, yaitu kitab Kejadian pasal yang ke 5.

... ia memperanakan ... mencapai umur ..., lalu ia mati.
... ia memperanakan ... mencapai umur ..., lalu ia mati.
... ia memperanakan ... mencapai umur ..., lalu ia mati.

Dalam Kejadian 5, di antara sekumpulan kisah hidup manusia yang dicatat, ada seorang manusia yang dicatat secara berbeda. Di tengah-tengah kisah rutinitas hidup manusia yang senantiasa terus bergulir, ada sebuah fenomena yang memberikan “hentakan” ketika kita membaca pasal ini. Apakah itu? Itu adalah kisah hidup seorang yang bernama Henokh. Henokh adalah satu-satunya orang yang dicatat di dalam pasal ini secara unik, yaitu “Henokh hidup bergaul dengan Allah.”

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan hidup bergaul dengan Allah? Sebagai orang Kristen, kita seharusnya melihat bahwa seluruh otoritas hidup kita berada di dalam kehendak Allah yang berdaulat. Kita sebagai ciptaan dan umat pilihan-Nya yang sudah ditebus, telah dikhususkan untuk menjadi kekasih-Nya dalam hubungan relasi yang amat khusus dan intim. Relasi ini bukanlah suatu relasi terhadap rutinitas ataupun serentetan kegiatan/sistem yang impersonal melainkan kepada Allah – Pencipta langit dan bumi – yang hidup dan personal.

Namun, sering kali dalam kehidupan di dunia berdosa ini, relasi itu menjadi relasi yang impersonal dan berpusat pada diri kita sendiri. Relasi yang seharusnya berpusat pada Allah, menjadi berpusat pada kelopak mata, perut, tugas-tugas/projek-projek kampus, ujian, harta, kenyamanan, kenikmatan, yang kalau mau disimpulkan semuanya adalah berpusat kepada diri sebagai allah. Inilah yang tertulis di Kejadian pasal 3, manusia ingin menjadi Allah. Bahkan dalam situasi yang terkesan seakan kita bergaul dengan Allah sekalipun seperti di gereja, kita dapat terjebak dalam masalah ini. Kita bisa saja hanya berelasi pada berkat-berkat, frase/istilah-istilah theologis, atau bahkan tugas pelayanan dalam pekerjaan Tuhan itu sendiri. Kita berhenti pada hal-hal tersebut dan tidak sampai pada Sumber dari semuanya itu, yaitu Sang Kebenaran itu sendiri. Sungguh mengerikan apabila kita merasa sudah mempersembahkan segala sesuatu untuk Tuhan, tetapi ternyata Tuhan muak dan menolak semuanya itu.

“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih daripada korban-korban bakaran.“ (Hosea 6:6)

Hidup bergaul dengan Allah adalah hidup yang mengenal Allah sebagai Allah kita. Mengenal Allah berarti mengenal dan menjalankan kehendak-Nya, karena Dialah Tuhan kita. Dialah Otoritas tertinggi yang berkuasa atas seluruh aspek hidup kita. Bahkan sampai kepada hal yang terdetail sekalipun, karena Allah kita adalah Allah yang menciptakan detail – kaki laba-laba yang begitu detail dan kompleks, dicipta oleh Allah.

Jadi, apa itu Christian life? Christian life adalah ketika seluruh hidup kita berfokus pada dan sesuai dengan kehendak Allah. Artinya, kita terus berusaha agar Firman-Nya dinyatakan melalui seluruh hidup kita dan rencana Allah boleh terlaksana dan tergenapi dalam segala hal yang kita kerjakan, bahkan dalam hal sedetail apapun. Pertimbangan kita bukan lagi terletak pada diri lebih nyaman di mana, diri lebih berkuasa di mana, diri lebih suka di mana, diri lebih kaya di mana, dan sebagainya, tetapi Tuhan ingin saya kerjakan apa, Tuhan ingin saya ada di mana, Tuhan ingin saya bagaimana. Karena hidupku bukan miliku lagi (1 Korintus 6:19), tetapi milik Yesus Kristus Sang Juruselamat kita (1 Korintus 3:23; Titus 2:14). Kiranya Tuhan yang sudah memulai pekerjaan baik atas diri kita, terus menerus menopang dan memberi kekuatan kepada kita untuk senantiasa mempersembahkan hati kita yang menyala-nyala bagi Tuhan. Sola Gracia. Soli Deo Gloria.

Andre Tirta Winoto