A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Passion: Sejarah dan Maknanya

Passion adalah salah satu karya musik Kristen yang mempunyai tradisi panjang dalam sejarah musik Kristen. Passion ini, dalam musik, berarti suatu komposisi musik yang disusun untuk memperingati penderitaan dan kematian Kristus berdasarkan keempat Injil. Dalam catatan sejarah, Passion mula-mula dibawakan oleh peziarah yang menuju ke Yerusalem pada abad keempat. Kemudian pada abad kelima ada juga catatan mengenai penggunaan Passion pada masa Paus Leo Agung. Masih banyak lagi catatan lainnya. Secara umum, pada masa awal perkembangannya, Passion dinyanyikan dengan chanting satu melodi (monophonic). Ketika memasuki abad kelimabelas, mulailah Passion dinyanyikan dengan banyak suara dan banyak melodi (polyphonic). Maka komposisi Passion sejak abad kelimabelas terdiri dari monophonic dan polyphonic. Beberapa komposer yang menulis karya Passion abad kelimabelas adalah Richard Davy dan Johann Martini.

Komposisi musik Passion pun terus berkembang. Seperti pada abad kelimabelas berkembang Passion yang dikenal sebagai responsorial Passion. Passion ini dikenal juga dengan nama choral Passion atau dramatic Passion. Komposisi ini berkembang pesat di Italia. Musiknya di antaranya terdiri dari bagian perkataan Yesus yang dibuat dalam monophonic dan bagian paduan suara dalam polyphonic. Salah satu komposernya yang terkenal adalah Gasparo Alberti. Baru pada abad keenambelas, berkembanglah Passion dalam tradisi protestan. Ajaran Luther yang juga mendukung berkembangnya Passion dalam tradisi protestan adalah theologia cruces-nya(theologi salib). Salah satunya mengajarkan agar kita juga menghidupi Passion itu. Dalam tradisi protestan ini berkembang komposisi polyphonic dalam responsorial Passion dan Latin atau Jerman summa Passion. Salah satu modifikasi dalam komposisi Jerman ini adalah penggunaan polyphonic dalam perkataan Yesus.

Abad kedelapanbelas disebut juga zaman Barok adalah masa puncak perkembangan Passion. Karena ketika memasuki abad kesembilanbelas dan keduapuluh, Passion tidak lagi populer dan lebih sering ditampilkan dalam suatu konser atau untuk tujuan yang lebih komersial. Komposisi Passion pada abad kedelapanbelas di antaranya terdiri dari hymn yang dikenal, teks Alkitab, dan teks meditasi (seperti dialog secara tidak langsung). Komposisi musiknya pun mengalami banyak variasi dibandingkan dengan karya Passion zaman sebelumnya. Komposer yang menuliskan Passion pada zaman itu di antaranya adalah Johann Sebastian Bach, Thomas Mancinus, Georg Philipp Telemann, Johann Georg Kühnhausen, dan Alexandro Scarlatti.

Salah satu Passion yang sangat terkenal adalah Matthew Passion yang ditulis oleh Johann Sebastian Bach. Karyanya ini mengalami beberapa pembaharuan. Matthew Passion versi pertama ditampilkan pada tahun 1727 dan 1729 di gereja St. Thomas, Leipzig. Versi keduanya ditampilkan pada tahun 1736 dan 1742 di tempat yang sama. Pada edisi kedua ini ada pembaharuan, seperti pembedaan warna tinta yang digunakan dalam penulisan teksnya. Bach menggunakan dua warna yakni tinta warna merah dan cokelat gelap. Tinta warna merah digunakan untuk menuliskan teks dari Alkitab, choral melody “O Lamm Gottes unschuldig” dalam bagian awal dan beberapa cuplikan teks theologis lainnya, sedangkan untuk bagian puisinya, teks ditulis dengan tinta cokelat gelap.

Pada zaman Bach, konteks liturginya berbeda dengan zaman kita sekarang. Passion tidak ditampilkan dalam suatu konser tapi dalam suatu ibadah. Tentunya ibadah untuk memperingati kematian Kristus. Berikut gambaran sederhana penggunaan Matthew Passion dalam liturgi pada waktu itu,

  1. Matthew Passion Part I (no. 1-29) – Sebelum khotbah
  2. Khotbah
  3. Matthew Passion Part II (no. 30-68) – Sesudah khotbah

Teks dari Matthew Passion dapat dibedakan menjadi dua yaitu (1) puisi oleh Picander dan (2) teks Alkitab dan teks choral. Picander adalah salah satu sastrawan Jerman yang sering dipakai oleh Bach untuk menjadi penulis teks dari karya musiknya. Selain itu ada penggunaan teks Alkitab yang diambil dari Perjanjian Baru (mungkin juga di dalamnya terdapat kutipan dari Perjanjian Lama). Dan teks choral yang digunakan biasanya adalah lagu-lagu pujian gereja yang dikenal oleh jemaat. Salah satu lagu pujian yang terkenal dan dijadikan choral yaitu “O sacred wounded”.

Fokus dari Passion adalah peristiwa pengorbanan Kristus di atas kayu salib. Pesan ini harus sampai kepada para pendengar. Sang komposer berusaha keras semaksimal mungkin menggunakan elemen-elemen dalam musik untuk membawa kita bermeditasi mengenai peristiwa penting itu. Oleh karena itu dalam setiap Passion, sang komposernya sangat memperhatikan penggunaan teks, simbol-simbol/penggambaran dramatis, dan ajaran theologies, demikian pula dalam penyusunan antara suara manusia, suara instrumen, melodi, pola ritme, struktur harmoni, dan pemilihan nada dasar (termasuk chord).

Makna theologis dari puisi dan dialog musical sengaja dinyatakan dan dipadukan oleh Picander dan Bach. Tujuannya yaitu membawa pendengar secara bertahap menjadi terlibat dalam Passion ini. Artinya mereka dapat mengalami penderitaan Yesus saat mendengar karyanya ini. Ada beberapa hal yang dilakukan Bach dalam komposisinya ini, di antaranya adalah dia menciptakan suatu tension dan dialog. Contohnya dapat kita lihat pada lagu pertama. Puisi lagu pertama ini ditulis oleh Picander. Christoph Wolff menyatakan bahwa lagu pertama dapat dianggap sebagai gagasan utama dari Passion ini. Pesannya yaitu Kristus adalah Anak Domba yang dikorbankan untuk penebusan dosa kita. Berikut beberapa cuplikan teks dari lagu pertama.

“Kommt, ihr Töchter, helft mir klagen” (Come, you daughters, help me lament)

“O Lamm Gottes, unschuldig” (O innocent Lamb of God)

“Seht ihn! Wie? Als wie ein Lamm” (see Him! How? Just as a lamb)

Dalam lagu pertama jelas terlihat adanya tension (ketegangan) yang digambarkan. Teks “Kommt, ihr Töchter, helft mir klagen” (Come, you daughters, help me lament) dalam E minor dinyanyikan oleh paduan suara secara keseluruhan. Ada juga bagian yang dinyanyikan oleh beberapa orang dengan nada tinggi yaitu “O Lamm Gottes, unschuldig” (O, innocent Lamb of God) dalam G major dengan bagian minor menyatakan Christ’s suffering dan bagian major menyatakan Christ’s innocence. Kedua pesan ini dikontraskan dalam satu lagu (atau satu musical setting) yang sama.

Selain itu, Bach berusaha untuk mengajak pendengarnya masuk dalam suatu dialog. Sehingga mereka dapat terlibat langsung dan merefleksikan peristiwa pengorbanan Kristus dalam kehidupan mereka. Hal ini terlihat pada bagian “Seht ihn! Wie? Als wie ein Lamm” (see Him! How? Just as a lamb). Para pendengar diajak untuk menyadari keberdosaan mereka dan menyadari bahwa mereka hanya bisa ditebus melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib.

Uraian singkat ini kiranya menyadarkan kita bahwa Passion adalah karya musik Kristen yang berakar kuat dalam sejarah kekristenan. Karya musik ini mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Semua komposer berusaha memberikan yang terbaik agar pesan Passion ini sampai kepada si pendengar. Mereka tidak ingin musiknya hanya dinikmati sebagai suatu karya musik secara artistik saja. Tapi mereka ingin agar melalui Passion, si pendengar dibawa ke dalam suatu perenungan yang dalam akan kematian Tuhan Yesus Kristus. Si pendengar diajak untuk menyadari bahwa dia adalah orang berdosa yang sudah ditebus dengan mahal oleh Yesus Kritus melalui pengorbanan diriNya sendiri di atas kayu salib.

Lukman Sabtiyadi
REDS – Culture

Referensi:

  • Christoph, Wolff. Johann Sebastian Bach: The Learned Musician. New York: W. W. Norton & Company, 2000.
  • Stanley Sadie, ed. The New Grove Dictionary of Music and Musicians, 2nd edition, Vol. 2 & 19.