A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Bergumul

Manusia adalah makhluk yang diberikan kehendak bebas oleh Allah. Kehendak bebas inilah menjamin kita dapat memilih di dalam kehidupan kita sehingga hidup ini pun tampaknya penuh dengan pilihan. Hari ini, kemanapun kita melangkah dan ke arah manapun kita melihat, kita seakan-akan diingatkan terus-menerus oleh lingkungan di sekitar kita akan fakta ini. Televisi dan media cetak menyodorkan ratusan iklan produk dan jasa kepada kita setiap harinya. Supermarket dan pasar memperlihatkan kepada kita berbagai macam jenis, ukuran, merek, dan harga hanya untuk satu produk saja (kita bahkan mulai kesulitan mengingat semua jenis dan merek dari produk-produk yang kita pakai sehari-hari). Dunia entertainment menawarkan sederetan pilihan jenis musik, film, dan game untuk didengarkan, ditonton, dan dinikmati. Tidak berhenti sampai kepada produk yang kita pakai dan kenakan pada tubuh kita, bahkan lebih luas dari itu, seluruh perjalanan hidup kita dipenuhi dan ditentukan arahnya oleh pilihan-pilihan yang kita atau orang lain buat.

Ketika kita masih kecil, orang lainlah yang kebanyakan membuat pilihan-pilihan hidup kita untuk kita. Pilihan untuk bersekolah dan bersekolah di sekolah macam apa, pilihan untuk tinggal di perumahan mana, pilihan untuk berteman dengan teman-teman macam apa, pilihan untuk kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler dan tempat-tempat les, dsb. Tetapi suatu hari akan datang waktu ketika kita diminta, dan memang sesuai dengan naturnya, waktu untuk kita memakai segenap kemampuan kehendak bebas kita untuk memilih. Memilih kuliah, memilih pekerjaan, memilih pasangan hidup, menikah atau selibat, dsb. Semakin dewasa, semakin kita menyadari betapa “bebas”nya kita dapat memilih, dan semakin sulit tampaknya pilihan-pilihan yang kita hadapi.

Manusia juga tampaknya sangat menyayangi “hak”nya yang satu ini, bahkan cenderung terobsesi kepadanya. Jika “hak” ini dicabut darinya, ia akan dengan segera gelisah dan memberontak. Hal ini paling mudah terlihat pada anak-anak, yang akan dengan segera merajuk atau menangis jika ia tidak diberikan pilihan yang diingininya. Dunia kekristenan pun tidak lepas dari memperlihatkan gejala yang sama. Permasalahan kehendak bebas dan kedaulatan Allah seolah-olah merupakan bahan perdebatan yang sulit dipahami dan diterima begitu saja. Itu tidak akan menjadi bahan pembicaraan dalam artikel ini tetapi mari kita berangkat dari konsep bahwa Allah memberikan anugerah kehendak bebas kepada kita maka hari ini kita dapat dengan bebas memilih. Benarkah? Jika benar, sejauh apa kita dapat mempertanggungjawabkan setiap pilihan yang kita buat? Apakah kita menyadari alasan-alasan sesungguhnya dari keputusan-keputusan kita? Atau apakah kita bahkan menyadari pilihan apa yang sedang kita ambil? Pertanyaan-pertanyaan ini umumnya harus dijawab dalam suatu proses yang diberi istilah “bergumul”.

Bergumul pada intinya adalah proses untuk mengerti kehendak Tuhan, tetapi di dalam keberdosaan manusia hal ini seringkali kabur. Dan di dalam keberdosaan manusia pula, istilah “bergumul” ini seringkali akhirnya hanya menjadi slogan saja. Pergumulan kita ujungnya bukan untuk mengerti kehendak Tuhan, tetapi hanya menunda-nunda menjalankan kehendak Tuhan untuk akhirnya menggenapkan kehendak kita sendiri. Betapa ironis, hari ini apa yang orang Kristen sebut sebagai bergumul mencari kehendak Tuhan seringkali justru adalah hambatan terbesar untuk menjalankan kehendak Tuhan.

Kita sering salah memahami pergumulan sebagai sesuatu yang timbul akibat ketidakjelasan kita akan kehendak Tuhan sebagai akibat dari dosa, tetapi sebenarnya pergumulan adalah sesuatu yang Allah tetapkan bagi manusia sejak penciptaan. Kehendak-kehendak Tuhan bagi ciptaanNya adalah sesuatu yang manusia mustahil pahami jika bukan Allah sendiri yang mewahyukannya. Pikiran Allah bukanlah pikiran manusia dan jalanNya bukanlah jalan kita, maka selalu ada proses yang harus manusia lewati untuk mengerti kehendak Tuhan sebagai respon terhadap pewahyuan kehendak itu, inilah pergumulan. Kitab Kejadian menggambarkan hal ini dalam pasalnya yang kedua. Dalam persekutuan yang tanpa dosa antara Allah dengan manusia, Allah tetap mengijinkan adanya pergumulan. Ketika Adam diberi perintah untuk menamai hewan-hewan, ia mengalami pergumulan karena ia tidak menemukan pasangan yang sepadan untuknya dan pergumulan tersebut memimpin kepada pengertian akan keberadaan Hawa sebagai penolong yang Allah tetapkan baginya. Allah juga memberikan pergumulan bagi Adam dan Hawa ketika memberikan hukum mengenai pohon tentang pengetahuan baik dan jahat. Di sana Allah membuka ruang bagi manusia untuk memakai kemampuannya memilih dan bergumul, taat atau tidak taat. Tetapi sebagai akibat pilihan Adam yang salah, hari ini kita bahkan tidak dapat lagi mengerti seperti apa kebebasan dalam memilih yang benar dan bagaimana bergumul dengan benar.

Ketika manusia jatuh ke dalam dosa akibat penyalahgunaan hak pilih, saat itu juga manusia kehilangan kebebasannya untuk memilih. Kehendak manusia tidak lagi bebas, melainkan sudah diperbudak oleh keinginan berdosa. Maka di dalam pergumulan kita hari ini, yang menjadi masalah terbesar kita bukanlah mencari kehendak Tuhan itu sendiri, melainkan bagaimana menundukkan diri yang selalu ingin memberontak ini kepada kehendak Tuhan. Kita bergumul hari ini dengan rasionalisasi-rasionalisasi yang terdengar sangat rohani tetapi yang berdiri bukan mewakili kepentingan rohani melainkan keinginan daging kita. Waktu bergumul kita hari ini menjadi waktu “time out” untuk mencari strategi dan jawaban untuk melarikan diri dari hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Ketika dunia menipu kita dengan mengatakan dan bertingkah seolah-olah manusia masih memiliki kehendak bebas dan masih dapat benar-benar memilih dengan menawarkan begitu banyak pilihan, pergumulan kehilangan esensinya. Proses bergumul seringkali bukan lagi manusia yang sedang memraktekkan kehendak bebasnya, bukan lagi proses manusia memilih, tetapi proses membebaskan diri dari pilihan yang benar sambil menggenapkan keinginan berdosa kita. “Pilihlah ini, karena ini yang terbaik”, “Buatlah pilihan yang benar, dan pakailah ini”, “Inilah pilihan yang terbaik bagi Anda”, “Jangan salah pilih dan merusak masa depan Anda”, dst, dst. Tetapi Alkitab sudah mengatakan bahwa manusia tidak lagi dapat mengetahui apa yang benar dan baik bagi dirinya sendiri, maka bagaimana mungkin manusia dapat memilih apa yang benar dan salah di dalam keberdosaannya? Jika benar manusia berdosa dapat memilih, maka ia hanya dapat memilih dengan cara apa ia akan melakukan kesalahan dan keberdosaannya. Bukankah ini suatu kecelakaan besar bagi manusia berdosa yang berkehendak bebas?

Hari ini, bila kita mengaku diri sebagai orang yang sudah ditebus oleh Kristus, dibebaskan dari perbudakan dosa, dan mengenal kebenaran maka mari kita belajar sungguh-sungguh bergumul mencari pimpinan Tuhan dengan benar serta tidak lagi mengeraskan hati dalam pergumulan kita. Jika kehendak Allah sudah dinyatakan kepada kita, mari kita berhenti “bergumul” dengan rasionalisasi-rasionalisasi kita. Mari kita berhenti mengahabiskan energi dan pikiran secara sia-sia dengan “bergumul” mencari-cari pembenaran untuk mensahkan keinginan-keinginan daging kita dan mulai belajar untuk taat penuh pada kehendak Tuhan. Bergumul bukan untuk melarikan diri, bergumul bukan untuk membenarkan diri, bergumul adalah untuk mengenal, mengerti, mentaati, dan menjalankan kehendak Tuhan atas hidup kita yang bebas ini. Selamat bergumul!

Chrissie Martinez