A huge collection of 3400+ free website templates www.JARtheme.COM WP themes and more at the biggest community-driven free web design site

Sola Scriptura dan Medis

Beberapa minggu yang lalu, saya mendapat sebuah email dari seorang teman yang berisi tentang keluhan akibat penipuan yang terjadi di sebuah rumah sakit swasta yang cukup besar. Singkat cerita, seorang pasien datang ke rumah sakit karena demam, ia menjalani pemeriksaan darah, dan dokter mengatakan ia harus dirawat karena trombositnya sangat rendah. Setelah dirawat dan diberi berbagai obat suntik tanpa penjelasan yang cukup, pasien pindah ke rumah sakit lain karena tidak puas. Belakangan diketahui ternyata hasil laboratorium yang menjadi alasan pasien tersebut harus dirawat ternyata tidak pernah ada.

Jika kita mendengar cerita seperti demikian, mungkin kita langsung berpikir, pasti oknum dokter tersebut bukan orang Kristen (padahal mungkin saja yang melakukan itu orang yang menamakan dirinya Kristen). Seringkali sebagai orang Kristen kita puas hanya dengan mengidentifikasikan diri kita sebagai dokter yang jujur dan tidak menipu pasien, bahkan sesekali membagikan traktat penginjilan atau undangan KKR. Benarkah panggilan kita sebagai orang Kristen yang berprofesi dokter hanya sebatas itu saja? Bahkan jika bicara tentang panggilan, apakah kita mengerti apa sebenarnya panggilan Allah bagi kita? Jika kita menjawab tidak atau tidak tahu, mungkinkah hidup yang kita jalani ini sedang menjalani kehendak Allah? Jawabannya pasti tidak! Seseorang yang tidak tahu kehendak Allah bagi hidupnya tentu tak dapat menjalankan kehendak Allah.

Lalu bagaimana kita dapat mengetahui kehendak Allah bagi kita? Theologi Reformed menekankan Sola Scriptura; semuanya harus kembali berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. Sebagai seorang Kristen kewajiban kita adalah berusaha mengerti seluruh Alkitab dan menjadikannya sebagai standar bagi seluruh aspek kehidupan kita (sola scriptura), termasuk juga bagi dunia medis. Pergumulan panggilan menjadi seorang dokter Kristen bukanlah hanya semata menjadi dokter Kristen yang jujur, tidak korupsi, murah hati, ringan tangan untuk menolong, dan membagikan traktat seperti yang diutarakan di atas, tetapi bagaimana seorang dokter Kristen harus memahami kebenaran Firman Tuhan dan menerapkannya dalam seluruh bidang ilmu di dunia medisnya, baik itu dalam perkembangan teknologi kedokteran, genetika, perubahan pola penanganan, dan sebagainya. Setiap bidang tersebut perlu dipikirkan secara serius bila kita ingin mengembalikan dunia medis sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Dan bila kita tidak melakukannya sesungguhnya kita sedang berbuat dosa.

Pergumulan dalam menjalankan panggilan sebagai seorang dokter Kristen tersebut bukanlah dimulai sejak menjadi seorang dokter. Juga bahkan bukan dimulai ketika masuk bangku kuliah, tetapi sebelum menginjak bangku kuliah seharusnya kita sudah menggumulkan panggilan tersebut. Hal ini semakin saya sadar ketika pada awal masa kuliah sebagai mahasiswa kedokteran, beberapa kali dalam ruang kuliah dosen menekankan, bahwa apa yang diajarkan kepada kami selama kuliah kedokteran, separuhnya akan terbukti salah dalam 100 tahun kemudian, karena itulah yang terjadi dalam dunia kedokteran selama ini. Lebih celakanya adalah, dosen yang saat ini mengajar tidak tahu paruh mana yang benar dan paruh mana yang salah. Bukankah hal ini berarti sebagai mahasiswa kedokteran hari ini kita sedang mempelajari banyak sekali ilmu yang salah atau bidat dalam dunia medis? Dan kita tak pernah menyadari bahwa konsep yang salah adalah dosa di hadapan Allah yang adalah Kebenaran itu sendiri.

Sola Scriptura harus dibawa kembali ke seluruh aspek hidup kita. Prinsip Alkitab seharusnya menaungi ilmu yang kita pelajari, dan menjadi standar tertinggi untuk menyatakan sesuatu benar atau salah, dan menjadi standar apakah kita perlu melakukan itu atau tidak. Sebagai orang yang bergerak dalam dunia medis kita akan sangat sering menemukan dan berhadapan dengan boleh ini atau itu, harus pakai ini atau itu, harus mengerjakan ini atau itu, dan sebagainya. Dan itu tidak bisa dengan sendirinya keluar jawaban tanpa mengerti panggilan dan pergumulan yang serius di hadapan Tuhan. Sayangnya mahasiswa-mahasiswa hari ini, tidak mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh, maka panggilan untuk dapat menganalisis dan menghakimi ilmu berdasarkan Alkitab masih merupakan mimpi yang jauh.

Dalam hal ini Gerakan Reformed Injili mengajak kita untuk kembali bersama-sama mengerjakan hal ini, dengan satu semangat Injili, yang hari ini juga tidak banyak dikerjakan. Kita kurang melihat kebutuhan yang besar di sekitar kita. Sebagai mahasiswa yang masih aktif di dalam kampus, setiap hari kita dapat menjangkau begitu banyak mahasiswa untuk dibawa kembali kepada kepada Tuhan dan tunduk kepada kebenaran Firman Tuhan. Hal ini sulit dikerjakan oleh orang lain di luar kampus, baik itu gereja maupun lembaga-lembaga pelayanan mahasiswa. Kiranya Tuhan menyadarkan kita akan segala anugerah dan tanggung jawab yang menyertainya, sehingga kita dapat melayani sesuai kehendakNya. Soli Deo Gloria.

dr. Dorothy
REDS – Med (Medical Issues)